Bertemankan Bantal & Guling

Pagi semuanya, Salam kenal dan salam persahabatan untuk semua pembaca di seluruh jagad raya ini.

Bagaimana dengan liburan tahun barunya? Pasti seru ya? Bahagia? Semangat baru? Resolusi baru? atau mungkin ada pernyataan yang lain (monggo diurai sendiri ya!).

Tahun baru harus hura-hura?Jalan-jalan ke luar negeri atau ke luar kota?, ini pernyataan personal mungkin ya karena tidak semua orang bisa melakukan hal ini. Hal ini seperti yang dialami saya sendiri, liburan tahun baru saya isi dengan perenungan di kosan “Sendiri, Makan, Tidur, Nonton, Mencet Keyboard, Nye-croll mouse”. Hal yang seru menurut saya dan saya sangat bersyukur sekali dengan nikmat karena saya mendapatkan banyak hal dan pelajaran. Kosan yang biasanya ramai dengan menutup dan membukanya pintu depan oleh beberapa penghuni kosan. Untuk beberapa hari belakangan ini, pemandangan ini tidak begitu terlihat, anda bayangkan saja para pembaca yang saya hormati! yang menjadi penghuni saat itu adalah saya seorang diri dan asisten majikan kosan yang tiap hari bersedia mencuci baju-baju kami dan membersihkan ruang-ruang luar kosan. Jadi, jika ada yang membuka pintu saya sudah tahu siapa dia. Merupakan fenomena sebuah kosan yang penghuninya adalah bukan semuanya anak rantau (luar pulau).

Siapakah yang menjadi teman setia kala kosan sepi penghuni? ya, siapa lagi jika bukan bantal dan guling “hadiah” dari abang saya yang sudah beberapa tahun setia mendampingi saya, rela saya injak-injak, menjadi sandaran saat saya pusing, mengempukkan pikiran saya yang tadinya berat menjadi enteng setelah saya bertengger beberapa saat diatasnya.  Dan bantal dan guling yang menjadi “hibah” dari tante kos dimana pertama kali saya melabuhkan diri di kosan ini yang saya tidak rela untuk mengeliminasinya dari kamar saya walaupun bantal tersebut tidak representatif untuk mengaspirasikan kebutuhan saya akan kenyamanan sebuah bantal, bantal ini sering saya jadikan pelabuhan HP dan laptop saya serta sandaran temporer atau permanen untuk menghindari benda-benda keras di sekitar kasur saya (seperti tembok, lemari kabinet). Serta sebuah bantal kecil yang merupakan “warisan” dari alumni kosan sepakat yang sering saya jadikan pelengkap dalam tidur saya.

Wah, terimakasih banyak buat semua orang yang sudah rela menghadiahkan bantal dan gulingnya ini. Terlihat kecil dan tidak bernilai memang jika dilihat dari ukuran makro, namun bagi saya ini terasa sangat bermakna.

Terkhusus untuk abang saya tercinta : terimakasih banyak atas inisiatifnya membelikan bantal dan guling yang enak tenan ini, dalam dekapannya saya merasa nyaman dan terobatilah kepenatan berpikir ini. Semoga rahmat dan nikmat Allah senatiasa teriring untukmu wahai abangku tercinta.

Salam spesialku untuk beberapa bantal dan gulingku,

-yang telah menindas dan menjajahmu-

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s