Satu Pilihan Untuk Malam Tahun Baru 2009

Bismillahirrohmanirrohim,

Alhamdulillah tahun 2008 telah dilalui dengan sejuta cerita, canda, tawa, tangis dan airmata. Semoga apa yang sudah dialami pada tahun 2008 menjadi bekal untuk menyongsong dan menjalankan resolusi serta harapan di 2009. Semoga rasa sakit, perih dan luka di 2008 terbalaskan dengan suka, cita, riang, kegembiraan dan kesuksesan.

Selama menginjakkan kaki di Jakarta (sejak tahun 2003) baru kali ini saya “merayakan” malam tahun baru di ibu kota Indonesia ini. Tahun-tahun sebelumnya biasanya saya “rayakan” di kampung halaman tercinta bersama keluarga, kerabat, saudara, teman dan sahabat.

Tanpa mempersiapkan sebuah agenda kegiatan yang akan dilakukan untuk menyambut tahun baru karena sejak kecil dalam keluarga saya tidak dibiasakan dan tidak ada istilah perayaan malam tahun baru, maka ketika beberapa teman dan rekan menanyakan “kemana tahun baru?”, saya pun menjawab dengan santai “di kosan aja, gak kemana-mana”.

Sehari sebelum tahun baru sayabertemu salah seorang rekan lama ketika masa kuliah dulu  dan dia mengajak saya untuk merayakan tahun baru bersama dia dengan “muter-muter jalan”, saya pun hanya bisa menjawab “liat besok ya, klo gak ada acara”. Malamnya, saya online melalui messenger saya dan kebetulan ada salah seorang senior yang menyapa saya dan mengajak saya untuk mengisi malam tahun baru dengan I’tikaf.  Setelah berdiskusi beberapa saat lahirlah sebuah kesepakatan bahwa kita berdua akan melakukan I’tikaf di masjid At-Tin, Jakarta Timur dengan naik motor atau naik angkutan umum (tergantung kondisi besok-malam tahun baru, red), alasan memilih masjid ini adalah karena pengisinya yang top dan tidak diragukan lagi kemampuannya. Pada tanggal 31 Desember pagi, tiba-tiba saya mendapatkan sms di provider GSM saya dari teman himpunan di kampus yang menginformasikan bahwa ada acara BBQ di depan KDB, kampus Sahdan. Beberapa hari sebelumnya, salah satu sahabat saya mengajak saya untuk mengisi tahun baru di rumahnya (yang berlokasi di luar kota). Apa rencana saya sebelum adanya penawaran tersebut? saya hanya ingin di kosan saja walaupun sendirian karena teman kosan yang lain ke luar kota untuk mudik dan urusan keluarga, melanjutkan proses revisi thesis saya yang masih beberapa bab lagi sambil menonton acara live di televisi.

Manakah yang saya pilih? dengan beberapa pertimbangan maka saya pun memilih I’tikaf, karena ruhiyah dan batin sedang pasang surut, dibutuhkan nutrisi rohani untuk membuat ruhiyah dan batin ini stabil. Jalan-jalan dan mengelilingi kota dalam keadaan batin yang demikian tidak akan menyelesaikan persoalan. BBQ boleh juga, bisa berbagi cerita dan becanda bersama teman-teman, namun tetap saja feel-nya kurang mengena dengan kondisi batin yang kering akan nilai-nilai ruhiyah. Ke rumah teman di luar kota? bisa saja, untuk lebih memperkuat dan menjaga silaturrahim yang sudah lama terjalin, namun tetap saja kurang dapat maknanya karena dia pun menghabiskan malam tahun barunya bersama keluarga besarnya. Mengerjakan thesis dengan keadaan batin dan ruhiyah berosilasi? sudah pasti pikiran mengambang dan tidak fokus serta kurang enjoy mengerjakannya. I’tikaf? ini pilihan yang representatif, kenapa demikian? :

  • batin dan ruhiyah terisi
  • menjadi bahan introspeksi diri
  • mengingat, mengingat dan mengingat akan dosa-dosa
  • bisa mendo’akan keluarga, teman, saudara, kerabat dan bangsa
  • memperkaya diri dengan rasa syukur dan meningkatkan motivasi diri
  • sumber inspirasi
  • media muhasabah akan kaleisdoskop 2008 dan do’a untuk resolusi 2009.

Ya, I’tikaf menjadi pilihan utama dari sekian banyak tawaran tanpa rencana itu. Terimakasih ya Allah, untuk nur yang Engkau limpahkan kepadaku yang banyak dosa ini, atas hati yang bisa Engkau arahkan ke jalan kebaikan, senantiasa tuntulah langkahku Yaa Rabb. Diskusi dengan senior saya pun saya tutup dengan pernyataan “besok aku kabari lagi lewat telepon ya”.

Siang harinya (31 Desember 2008), salah satu teman saya mengajak I’tikaf juga tapi lokasinya di Sunda Kelapa. Menarik juga tawaran ini, tapi bukannya saya sudah berjanji dengan senior saya untuk i’tikaf di masjid At-tin. Untuk tawaran di masjid Sunda Kelapa ini, saya belum menjawab “Ya atau Tidak” karena saya belum mendapatkan kepastian dari teman-teman yang lain. Saya pun mengkomunikasikan ke teman-teman yang lain (khususnya senior saya yang sudah membuat janji dengan saya semalam) mengenai lokasi dimana kita akan i’tikaf dan bagaimana cara menjangkau lokasi itu. Secara pribadi, saya tidak masalah apakah itu menggunakan kendaraan pribadi (khususnya motor) , naik angkutan umum atau ada sukarelawan yang berkenan memberikan tumpangan kepada kami. Hasil komunikasi menunjukkan bahwa i’tikaf berlokasi di At-tin. Saya pun langsung menginformasikan ke teman kantor saya atas hal ini dan menawarkannya kepada teman saya, Alhamdulillah dia tidak keberatan. Setelah itu, saya pun membuat kesepakatan bahwa saya akan mengantarkan teman saya ke kosannya yang berlokasi di kuningan untuk mengambil barang-barang yang akan dibawanya nati  kemudian kita langsung meluncur ke kosan menunggu partisipan i’tikaf yang satu lagi,   saya informasikan kepada senior saya tersebut bahwa kita berkumpul di kosan  setelah maghrib.

Alhamdulillah waa syukurillah, niat ini mendapatkan kemudahan dari Allah karena kami yang tadinya berencana menggunakan angkutan umum untuk menuju lokasi i’tikaf menjadi menggunakan angkutan pribadi yang dibawa oleh salah satu teman saya yang lain yang kebetulan akan merayakan tahun baru di masjid At-tin bersama keluarganya.

Dari sepenggal cerita ini, dapat ditarik hikmah sebagai berikut :

  • tidaklah menjadi soal berapa jumlah yang akan ikut, yang terpenting adalah niatnya
  • hidup adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya, tergantung cara berpikir dan bersikap saja atas konsekuensi-konsekuensi tersebut
  • akan selalu ada kemudahan untuk sebuah niat yang baik
  • dimulai dengan niat dan dilanjutkan dengan ikhtiar dari niat tersebut
  • hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.

Sekian, semoga bermanfaat.

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Ismi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s