Mempertahankan Nilai Ramadhan&Menyambut Idul Qurban 1433H

“Robbi Ja’alni muqimas sholati wa min dzuriyyati, robbana wa taqobal du’a, Robbannagh firli wa li wa li dayya wa li jami’il mukminina yauma yaqumul hisab “ (Surat Ibrahim : 40 -41)

 Bagi sebagian besar masyarakat Madura, khusunya bagi mereka yang perantauan, mudik di Idul Adha adalah lebih utama dibandingkan mudik di Idul Fitri. Tentu saja hal ini saya ketahui beberapa tahun belakangan ketika kesadaran dan peran saya mulai saya nikmati. Idul Adha bagi orang Madura disebut juga sebagai Hari Raya Besar karena di sana ada Puasa, Haji, Kurban dan Sholat Ied. Pantas saja mereka bersemangat untuk mudik karena bisa secara holistik melakukan keempat hal tersebut di kampung halaman.

Tidak hanya bagi masyarakat Madura, kaum muslim pun menyambut sahdu kehadiran Idul Qurban yang ditunjukkan dengan menyembelih hewan qurban menurut kemampuan masing-masing. Hmhmhm, sangat bersyukur sekali ketika ilmu pemahaman tentang Dzulhijjah mulai menggelayut dalam diri saya, jika sebelum-sebelumnya hanya membaca lalu menutup buku yang suda dibaca kemudian berkata dalam diri “ouw gitu ceritanya”. Di tahun ini, ada sedikit pencerahan tentang esensi Dzulhijjah yang memberikan semangat baru dalam diri untuk memperbaiki diri. Tak heran jika dalam suatu momen khutbah idul Adha  terakhir (1420 H) Bapak tercinta di Masjid Besar Al-Falah Burneh menangis menceritakan kembali tentang perjalanan haji dan napak tilas keluarga Ibrahim. Dan saya baru kemarin menangis membaca kisah ketauhidan keluarga Ibrahim, benar-benar menyentuh bashirah terdalam saya. Ujian yang diberikan oleh Allah untuk Nabi Ibrahim sangat membuka pemahaman tentang ketauhidan seorang utusan Allah tersebut, beliau diuji dengan aneka warna ujian dalam keluarganya; mulai dari Ayahnya yang penyembah berhala, kemudian anaknya yang baru saja dia dapatkan setelah menunggu bertahun-tahun dan harus disembelihnya. Kalau kita yang diberikan semacam ini, rasanya ketauhidan kita tergoncang sana sini, tapi belajar dari Nabi Ibrahim, beliau begitu sabar dan ikhlas menghadapinya.

Terkait Nabi Ibrahim, ada cerita yang pernah dituturkan oleh Bapak yang sampai sekarang seringkali menjadi pengingat diri. Bapak mengatakan bahwa yang dikhawatirkan oleh Nabi Ibrahim setelah meninggalnya bukan apa yang akan dimakan esok, tapi apa yang disembahnya esok *sambil membayangkan gaya Bapak yang khas dalam menyampaikan*. Nabi Ibrahim tidak khawatir tentang pembagian harta warisan, urusan perut dan hal hedonis yang lain, tapi Nabi Ibrahim sangat mengkhawtirkan tentang tauhid keturunannya “masihkah terus menyembah Allah?”.

Kali ini, saya ingin berbagi tentang materi yang baru saya dapatkan dari sebuah acara kajian yang dibawakan oleh Dr. Agus Ali Fauzi, pemateri dari kalangan medis yang banyak menggunakan pendekatan spiritual untuk mengobati pasiennya dan ia juga aktif dalam beberapa kegiatan sosial-kemanusiaan. Terimakasih Dokter atas pencerahannya, semoga keberkahan terus mengiringi perjalanan kita semua. Adapun topik kajiannya adalah “Mempertahankan Nilai Ramadhan&Menyambut Idul Qurban 1433H”. Mungkin notulensi yang sudah saya tulis berdasarkan materi yang disampaikan olehnya akan saya rangkum menurut gaya bahasa saya, semoga tidak mengurangi maksud dari materi yang sudah disampaikan. Berikut resensinya :

Mempertahankan lebih sulit daripada meraih. Itulah kalimat yang sering terdengar pada saat kita sekolah, dan memang terbukti benar. Meraih peringkat kelas ke yang lebih tinggi itu gampang, tapi mempertahankan peringkat kelas yang sudah diraih itu kok sulit sekali. Alhamdulillah ini sudah saya buktikan ketika saya masih anak sekolahan. Dan senada dengan mempertahankan nilai Ramadhan, ini juga hal yang sulit untuk kita terapkan dalam kehidupan setelah Ramadhan. Kemenangan di saat Idul Fitri hanyalah sekedar simbolik yang numpang lewat dan setelahnya hilang tanpa bekas. Tentu, sebagai insan yang terus melakukan perbaikan kita tidak ingin kehilangan nilai-nilai tersebut agar kehidupan kita menjadi semakin bermakna karena kita sudah meraihnya dengan pengorbanan. Konsisten, istiqomah dan inovasi adalah kata lain dari mempertahankan sebuah nilai kebaikan yang sudah kita raih. Dengan demikian rupa-rupa krisis yang akan kita alami setelah Ramadhan dapat kita hadapi dengan penuh keikhlasan. Kita perlu menghargai proses yang tak mudah dari perjalanan Ramadhan, proses tersebut adalah :

Input (Iman) –> Proses (Introspeksi Diri) –> Output (Taqwa), yang kemudian menghasilkan outcome dalam diri yang harus Di-MAINTENANCE

Kemenangan yang sudah kita raih dalam bulan latihan (baca:bulan Ramadhan) berupa kemenangan untuk melawan hawa nafsu, amarah, serakah, egois, malas dan lain-lain. Untuk itulah kemenangan itu perlu kita rawat dengan cara :

  • Banyak bersyukur *Alhamdulillah*
  • Konsisten “Istiqomah”  *Disiplin, belajarlah dari dari kultur disiplin alam semesta, inshaAllah akan menundukkan keangkuhan kita*
  • Action positif (Good H3C2A1); H3 = Heart, Head & Hand -> hati yang bersih, kepala yang jauh dari praduga negatif dan tangan yang selalu siap membantu siapapun. C2 = Communication& Care -> menyetarakan level dalam berkomunikasi karena orang yang adaptif akan banyak temannya, dan memiliki kepedulian yang positif pada sekitar. A1 = Action -> menggerakkan H3C2 dalam sebuah tindakan yang nyata dan bukan hanya dalam teori dan kata yang indah.
  • Selalu berdo’a
  • Inovasi *menyesuaiakan dengan perkembangan jaman, memanfaatkan teknologi untuk kebaikan dan bukan dimanfaatkan oleh teknologi untuk terjun dalam kemudhratan*

Sedangkan komponen-komponen dalam diri yang harus dilakukan maintenance adalah : hati, pikiran, ahlaq, rezeki, fisik. Hati, pikiran dan ahlaq dimaintain dengan cara banyak mengingat Allah. Rezeki dimaintain dengan cara bersedekah dan mengingatkan diri untuk tidak jadi orang yang “emanan” (baca : super perhitungan). Sedangkan fisik dimaintain dengan cara menghidupkan gaya hidup sehat, definisi kesehatan tidak hanya berkutat pada aspek fisik tapi juga psikologis, sosial, spiritual dan ekonomi.  Contoh cara hidup sehat adalah : bersepeda yang akan menguatkan jantung, atau sekedar bertemu dengan sinar matahari selama 15 menit setiap pagi (antara jam 6 sampai dengan jam 8) untuk memadatkan tulang.

Dalam memaknai dan menyambut Idul Qurban diperlukan nilai-nilai Ramadhan yang sudah termaintain agar Dzulhijjah menjadi lebih bernilai. Sikap sabar dan ikhlas yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi teladan bagi kita semua untuk menyambut Idul Qurban. Kesabaran yang akan kita mainkan memang bukan kesabaran versi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, karena mereka adalah manusia pilihan untuk dijadikan sebagai teladan bagi orang-orang setelahnya dan bagi  kita saat ini. Kesabaran yang bisa kita lakukan adalah sabar dalam hal : belajar mendengarkan (bukan hanya mendengar), belajarlah mendahulukan kepentingan orang lain, berikan reaksi positif meskipun aksi negatif, berpuasalah, perbanyaklah istighfar. Sedangkan keikhlasan yang bisa coba dimulai adalah  belajar untuk tidak ingin dipuji dan tak tak takut juga bila dimaki. Dengan demikian kisah Nabi Ibrahim  yang sarat perjuangan, kesabaran, ketabahan, ketaatan, keikhlasan, kemuliaan dan ketaqwaan kepada Allah SWT semoga bisa menjadi I’tibar bagi kita semua dalam menyambut Idul Qurban 1433 H ini. Kita bisa mempertahankan kemenangan yang sudah kita raih di bulan Ramadhan, dan kita bisa juga menyambut Idul Qurban di tahun ini dengan lebih berkah dan penuh rahmat.

“Yaa Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, Yaa Tuhanku perkenankanlah doaku , Yaa Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab”. (Surat Ibrahim : 40 -41)

-Selamat Datang Dzulhijjah 1433 H, Universitas Narotama; 14-10-2012-

About these ads

About Is

Iis Rasjeed
This entry was posted in Islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s