Iswarti’s Blog

Simplicity, Compatibility and Explicity

Wahai Media, Bisakah Tidak Terlalu Over

Posted by Iswarti Utami on November 3, 2009

Seiring dengan laju reformasi sampai dengan sekarang, kebebasan pers menjadi semakin cepat pergerakannya. Jika pada saat orde baru pers seperti burung dalam sangkar, sedangkan ketika pasca reformasi pers sudah bisa terbang jauh tanpa kompas dan monitor.

Saat ini, para media tengah ramai-ramai berpesta pora mem-blow up pertarungan cicak melawan buaya. Cicak sebagai KPK (Komisi Pemberantas Korupsi), sedangkan buaya sebagai analogi Polisi sangat ramai diberitakan oleh media di tanah air tanpa filter dan monitior dari pemerintah. Apa sebenarnya yang terjadi dengan negeri ini? .

Tulisan ini, bukan untuk membela cicak atau buaya. Pernyataan untuk pertempuran ini adalah “Kemenangan pasti akan berpihak kepada kebenaran walaupun itu sulit dan terbungkus karena sudah terbungkus dengan rekayasa tingkat tinggi”. Tulisan ini untuk menjadi masukan bagi media negeri ini yang sudah telanjur kebablasan dalam menyajikan dan menyebarkan informasi kepada masyarakat. Betapa tidak, pemberitaan yang ditayangkan belakangan oleh beberapa media seakan-akan sudah tak mengenal yang namanya kode etis. Jelas, pemberitaan seperti perang adu mulut antara 2 kuasa hukum yang hampir melahirkan pertempuran masih saja sering diulang dan terlihat betapa bangganya sudah bisa menangkap adegan ini. Terasa menonton adegan sinetron yang pemain utamanya adalah Cicak dan Buaya, pemain lawannya adalah masyarakat kita sendiri, sedangkan media adalah pemain tengah yang sewaktu-waktu bisa berpihak kepada pemain utama atau pemain lawan.

Wahai media, kalian ini bagian dari negeri ini, begitu tegakah kalian jika aib bangsa yang kalian tampilkan dan sebarkan menjadi aib internasional…Astaghfirullah, tolong perbaiki pemberitaan yang kalian sajikan, lihatlah bahwa para pembaca, penonton dan pendengar kalian adalah bukan hanya para politisi, koruptor, pengadu domba, penjajah. Tapi masih banyak elemen masyarakat lain yang butuh edukasi informasi dari kalian semua. Jika sekiranya itu menyangkut aib bangsa kenapa tidak coba kalian filter dulu. Takutkah kalian jika tidak dikatakan transparan, tolong lah untuk membedakan antara transparansi dan aib. Dialog-dialog yang penuh dengan aib itu ada baiknya tidak dipertontonkan secara blak-blakan kepada masyarakat, siaran itu tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kita tapi masyarakat dunia yang lain pun menyaksikannya. Apa yang ingin kalian kejar? NETRALITAS, TRANSPARANSI, OPLAH, RATING atau mungkin menjadikan negeri ini negeri kapitalis dan imperialis terselubung. Apakah benar apa yang sudah kalian beritakan sesuai dengan kode etis jornalistik yang sudah kalian pelajari ataukah ada kepentingan lain dibalik itu semua.

Semoga tulisan ini bisa menjadi koreksi buat kita bersama. Menjadi penonton yang cerdas dan selektif. Dan menjadi media yang edukatif, informatif dan beretika.

Saya minta maaf jika ada yang kurang sesuai dalam tulisan ini, tapi bukankah sebagai warga negara kita memiliki hak yang sama, apa salahnya jika kita saling mengingatkan walaupun saya bukanlah orang yang paham betul akan dunia jurnalistik. Mari kita berikan kontribusi yang terbaik untuk pembangunan citra negeri ini. Karena walaupun tidak kita rasakan sekarang, tapi anak cucu kita dan generasi lanjutan kita lah yang akan merasakannya. Aku cinta kamu, wahai Indonesiaku.

Posted in I-Society&Community | Leave a Comment »

Rilis Kliping Pribadi

Posted by Iswarti Utami on October 19, 2009

Alhamdulillah waa syukurillah,

“Lebih baik dengan 50% tapi melakukan apa-apa, daripada dengan 100% tapi tidak melakukan apa-apa”, quote ini rasanya yang paling cocok untuk merepresentasikan aktivitas yang saat ini tengah saya lakukan di sela-sela waktu kosong saya di kosan tercinta tentunya.

Melihat tumpukan koran yang sayang untuk dibuang, namun berantakan dan memenuhi ruangan kosan jika tidak dibuang-buang, maka terpikirlah ide untuk mengambil hal-hal yang penting dan menarik bagi saya untuk saya buatkan kliping. Sebelum membuang lembaran demi lembaran koran tersebut, saya baca dulu sekilas dan jika ada topik/bahasan yang menarik maka saya gunting untuk kemudian siap saya tempelkan di buku kliping yang sudah saya persiapkan sejak lama.

Ya..buku kliping itu pun bekas, saya dapatkan dari tumpukan buku-buku yang ada di rumah, melihat beberapa buku kosong yang merupakan agenda kerja harian milik Ibu saya ketika dulu menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil, red) maka daripada dibuang saya pun menyimpannya yang awalnya saya niatkan untuk menulis tapi kemudian saya ganti perannya menjadi penyimpan sekaligus pajangan dari  hasil guntingan koran.

Great, luar biasa dan sangat menyenangkan sekali bisa melakukan ini, selain ilmu bertambah juga dapat dijadikan bahan referensi dan inspirasi bagi diri sendiri. Isi dari klipping pun bisa saya customize (apa ya bahasa Indonesianya…ckckckckkckck)  sendiri, sangat memuaskan tentunya.

Dunia jurnalislik yang sudah digandrungi sejak kecil masih merupakan bagian dari hobby yang berjalan secara kontinyu dan sampai detik ini pun masih tetap mencintainya walaupun mungkin masih belum menjadi bagian dari profesi..but someday it will, insyaAllah.

Masa-masa kuliah sudah cukup memberikan space bagi pengembangan dan penuangan ide jurnalistik. Dengan modal niat, nekat dan bahan seadanya mampu menghidupkan kembali dunia jurnalistik yang sebelumnya vakum. Thx my frends sudah bersama-sama mewujudkan itu semua, semoga menjadi bagian sejarah yang baik bagi kita semua.

Posted in I-Activity | Leave a Comment »

Suaraku : “Sayang, tak bisa memilih”

Posted by Iswarti Utami on July 5, 2009

Pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2009 insyaAllah akan digelar pada 8 Juli 2009, namun dikarenakan DPT saya (Daftar Pemilih Tetap) terdaftar di kampung tercinta (Burneh-Bangkalan-Madura…entah di TPS-Tempat Pemungutan Suara) maka hak pilih saya di Jakarta menjadi terhalang dikarenakan proses administrasi yang saya sendiri tidak tahu bagaimana prosedurnya. Halangan ini menjadikan saya tidak bisa memilih capres idola saya.

Agak kecewa juga dengan kondisi ini, karena sayang sekali suara hati saya tidak bisa saya salurkan dalam selembar kertas contrengan. Andai pemilihan bisa dilakukan secara online dengan prosedur dan administrasi didasarkan pada identitas unik dan syarat yang sudah dipenuhi, maka semua lapisan masyarakat bisa teraspirasikan.

Tapi, begitulah birokrasi, terkesan kaku dan tidak kompatibel. Sebuah pertanyaan, berapakah warga negara Indonesia yang bernasib sama dengan saya? Adakah solusi dari pemerintah sendiri menyikapi hal semacam ini? Bagaimana dengan suara kami yang merupakan bagian dari suara rakyat? Diakumulasikan kepada siapakah suara-suara yang tak teraspirasi ini?. Saya sadari bahwa satu suara menentukan masa depan bangsa. Tapi mana aksi jemput bola birokrasi kepada rakyat yang bernasib seperti kami ini? Semoga suara yang tak tersalurkan ini bisa dicarikan solusi dan strategi terbaik oleh pemerintah.

Bangkitlah negeriku, Bangkitlah bangsaku

Di sini Indonesiaku, di sana pun Indonesiaku

Hiduplah Indonesiaku

Berkibarlah merah putihku.

Posted in I-Public | 1 Comment »

Saat Jalan Rezeki Itu Dibuka

Posted by Iswarti Utami on July 1, 2009

Bismillahirrahmanirrahim,

[“Alhamdulillah” untuk nikmat yang hari ini telah Engkau anugerahkan]

[“Astaghfirullah” atas rasa keluh dan kesah serta penyesalan yang sering kukumandangkan]

Hari ini, seperti biasanya, mengisi jam makan siang dengan makan di sekitar ruang kerja bersama rekan-rekan di kantor atau mencari sendiri di luar area kantor. Dengan ditemani oleh teman satu tim, namun dia berbeda bagian, kami pun melangkah keluar. Dikarenakan access door saya sudah “expired” statusnya, maka untuk keluar dari ruangan saya harus nebeng Lidia. Kami pun keluar, turun dari lantai 4 menuju tempat makan yang belum kami sepakati dimana. Kebetulan, dari kemarin saya sangat ingin makan dengan ikan mujair yang digoreng renyah dan kriuk-kriuk serta sambel yang dicampur dengan sedikit jeruk, makin ajib rasanya untuk membayangkannya.

Perasaan terpendam yang belum terwujud dari kemarin ini dikarenakan saldo di dompet kami pas-pasan (Kemarin, kebetulan jumlah nominal saldo kami sama, yaitu 20 ribu rupiah, maka dengan kerelaan kami berdua, kami pun makan siang di warung makan dengan harga yang tak membuat kami berdua was-was dan lokasinya pun tak terlalu jauh). Masih kemarin, beberapa langkah kaki menuju tempat makan yang tak bikin was-was tersebut, Lidia memberitahukan saya bahwa berdasarkan informasi dari salah satu rekan kami yang kebetulan dalam satu vendor (baca : satu perusahaan outsource) menyatakan bahwa gaji telah masuk. Karena masih isu, maka kami tetap melanjutkan makan dengan kondisi saldo kami yang sudah disebutkan, dan kami baru akan mengecek ke gedung sebelah setelah selesai makan siang nanti. Alhamdulillah kami pun makan dan indahnya nikmat makan ini.

Hari ini, setelah keluar dari lift dan menuju pintu keluar kantor kami mendiskusikan dimana kami akan makan. Tak kurang hanya dengan durasi kurang dari 5 menit, kami sepakat dengan tempat makan yang akan kami tuju, memang lebih cepat lebih baik. Anda tentu tahu bukan dimana kami akan makan? Ya benar, di warung makan yang menyediakan ikan mujair, ayam, lele dan lain-lain yang berlokasi di bawah rel samping kanan kantor kami di situlah kami makan. Terimakasih yaa Allah atas nikmat ini, Engkau telah mengabulkan keinginan terpendamku yang sedari kemarin aku inginkan.

Selesai makan, kami mampir dulu ke gedung yang juga berlokasi bersebelahan dari kantor kami dan jika posisinya dari warung makan yang kami tuju maka hanya cukup menyebrang sedikit saja. Gedung sebelah ini adalah Wisma Bimantara, kebetulan di sini sedang ada bazaar dalam merayakan ulang tahun Seputar Indonesia yang entah ke berapa tahun ( 3 atau 4 tahun, kurang terlalu tahu pasti). Kemarin kami sudah ke sini, dan ini untuk yang kedua kalinya, jika kemarin hanya melihat-lihat dan survey saja maka untuk hari ini lebih dari sekedar itu.

Hanya sekedar informasi singkat, kehadiran kami ke gedung ini bukan hanya karena adanya bazar dan ada parade artisnya (kemarin kami bertemu Rini Idol dan hari ini katanya ada bintang DAHSYAT-Luna Maya, Olga dkk), gedung ini bagi kami sudah seperti rumah kedua setelah kantor kami karena di sini tersedia infrastruktur dan penyedia kebutuhan pendukung kami selama di kantor, di gedung ini ada koperasi untuk membeli makanan dan minuman ringan, masjid yang jika kebetulan ada kajian sesekali kami datang, berbagai macam ATM dan kantornya dan lain-lain karena jika disebutkan semua infrastrukturnya serasa saya mempromosikan gedung ini saja. Cukup itu saja informasi singkatnya karena saya akan melanjutkan cerita di atas.

Seperti layaknya para penikmat bazar, maka berkeliling dan mengunjungi satu per satu standa yang ada adalah hal yang biasa. Kami menapakkan langkah menuju lokasi stand yang kemarin belum kami kunjungi. Berdasarkan pengamatan, di lokasi ini ada banyak stand, mulai dari makanan, universitas, perumahan, mobil, barang elektronik, buku bacaan, sandal, sepatu, baju, jilbab dan lain-lain. Kami kelilingi lokasi ini dari ujung ke ujung dan setelah sampai pada ujung saya meminta teman saya untuk berhenti sejenak di sebuah standa karena ada yang ingin saya beli di sana. Setelah selesai membeli di stand tersebut kami keluar dari lokasi standa-stand yang agak terpojok tersebut menuju episentrum dari bazaar ini, di sini ada panggung dan beberapa stand makanan serta minuman. Ada group band yang sedang berparade di panggung, kami hanya melirik sebentar dan kami melanjutkan perjalanan kami ke stand lain yang berlokasi di dalam gedung karena sekalian saya mau ke ATM. Selesai dari ATM kami melakukan kunjungan ke beberapa stand di sekitar ATM. Seharusnya perjalanan kami sudah harus kembali ke kantor, namun dikarenakan Lidia menyatakan “Katanya ada yang jualan makaroni ya?”, kemudian saya pun menjawab “Ada, bersebelahan dengan ice cream duren yang tadi lo beli, mo ke sana?”, Lidia membalas “Yuk”. Kami pun kembali lagi ke episentrum untuk membeli makaroni. Untunglah masih bisa menahan diri dikarenakan kondisi perut yang alhamdulillah kenyang, maka makanan seenak pun tampak biasa saja di depan mata dan kurang begitu menarik walaupun baunya begitu menggoda. Bukankah kita harus berhenti makan sebelum kenyang dan makan saat lapar? (terus terang tidak bisa sepenuhnya mampu mengapplikasikan ini).

Dalam perjalanan menuju episentrum bazar, melalui jalur yang cukup padat dilewati orang, hadir sesosok wajah yang saya kenal dengan mengenakan kemeja ungu, tas ransel dan berkaca mata. Ckckckckcck, eka? demikianlah pernyataan hati yang menggema. Ok, coba untuk menyapa “Eka!”, dia pun menoleh dan tampak belum mengenali saya, setelah kurang dari 5 menit (lagi-lagi lebih cepat lebih baik, maaf bukan maksud kampanye hanya sekedar mengintepretasikan pernyataan hati saja) Eka pun merespon “Kak IIS!”. Saya bertanya “Eka bareng siapa?”, dia menjawab “Sendirian kak”, sang kakak bertanya lagi “dalam rangka apa ke sini?”, sang adik pun menjawab “Ktemu sama konsultan kak, tapi gak ada orangnya, tadi cuman ktemu sama sekretarisnya aja, jadi titip pesen aja deh sama bosnya”. Saya : (berpikir ini anak bakal sendirian, dan saya cukup tau bagimana bosen dan betenya sendirian jalan-jalan di tempat yang rame dan kurang mengenal medan). Selanjutnya saya mengajaknya : “Yuk kita ikut sama aku, kita cari makan di sana (sambil menunjukkan arahnya di depan panggung, sory lid agak dikacangin dikit neh..trimakasih atas pengertiannya)”. Saya pun perkenalkan Eka kepada Lidia dan Lidia kepada Eka “Lid, kenalin ini Eka adik kelas satu jurusan di kampus”. Hmmm, entah dunia yang sempit atau teman yang tersebar kemana-mana yang membuat dunia ini sempit karena baru minggu kemarin saya baru bertemu dengan adik kelas satu organisasi semasa di kampus dulu di toilet kantor. Astaga, ini bertemu dengan adik kelas lagi.

(berhenti sejenak mendengarkan lagu “the calling-where ever you will go”)

Kami bertiga pun mampir ke stand ayng menjual makaroni dan aneka kue basah, Lidia dan Eka membelinya, saya kurang begitu tertarik karena saya sudah kenyang dan sayang saja jika saya membeli makanan-makanan itu hanya karena lapar mata dan kemudian tidak saya makan, “betapa masih banyak orang di dunia ini yang kurang makan, maka cobalah untuk terus belajar menghargai makanan supaya kita lebih dihargai oleh makanan”. Setelah membeli makanan itu, saya mengajak Eka untuk ikut serta ke kantor, kami bertiga pun meluncur ke kantor.

Kami pun sampai kantor. Lift sudah menuju dan membukakan dirinya untuk mengantarkan kami ke rumah hunian kami di kantor. Tadinya, saya berencana mengajak ngobrol Eka di lobby depan (biasa di sebut café, besebelahan dengan pantry) ruangan kami, namun dikarenakan sudah banyak orang di sana dan jam pun sudah menunjukkan jam masuk kerja kembali maka saya pun mengajaknya ke meja kerja saya dan kebetulan meja sebelah sedang tidak ada orangnya jadi saya pun bisa bekerja sambil mengobrol bersamanya. Lumayan, banyak hal, cerita serta memori yang disampaikan. Apalagi kami berdua satu angkatan dan pernah satu kelas saat dulu mengambil CCNA di binus centre. Semakin banyak hal yang diceritakan, ketika sudah menyerempet zona kuliah dan kursus ini. Disamping itu, Eka juga berbagi seputar SAP yang pernah dia dapatkan selama mengambil training dan terkait dengan pekerjaan dia saat ini maupun beberapa bulan yang lalu yang menangani projek dan applikasi SAP di sebuah BUMN. Sangat menarik dan banyak hal yang didapat, mulai dari ilmu sampai dengan pengetahuan tambahan mengenai gaji tertinggi di BUMN tersebut berapa dan karyawan IT berapa.

Di sela-sela diskusi dan cerita kami, salah satu teman saya (masih satu tim, yang juga yang menangani outsource di kantor saya, untuk beberapa bulan ini saya terikat kontrak dengan outsource beliau) menanyakan “siapa Is?”, saya pun menjawab “Temen mas, kenapa?, dia berkata “available gak?”, saya merespon “maksudnya?, belum tau juga (saya tahu arah pertanyaan dia kemana, pasti sekitar kerjaan dan pencarian kandidat untuk mencari posisi yang diperlukan di kantor). Saya dan Eka melanjutkan diskusi dan cerita dan Eka pun menunjukkkan program simulasi SAP melalui IDESK-nya dengan menggunakan VMWARE, memang agak lama tapi sangat membantu saya dalam menambah pengetahuan seputar SAP, karena di kantor lama dulu saya sering melakukan installasi SAP untuk beberapa client yang kebetulan menggunakan applikasi tersebut untuk keperluan kantor. Beberapa saat kemudia, mas Budi-teman yang menangani outsource melewati meja kerja saya (karena kebetulan meja saya bersebelahan dengan keluar masuknya orang) dan langsung menembak teman saya “udah kerja? Kerja dimana?”, Eka menjawab : “Udah, dulu di P*****, nangani projek SAP di sana”, mas Budi : “nah sekarang kerja dimana?”, Eka : “belum masih nangani beberapa projek aja&nungguin panggilan interview”. Mas Budi : “udah masukin CV-nya aja, apa mau langsung interview sekarang ke departemen yang bersangkutan”, Eka :”Kaget sambil ktawa2”, saya : “Ya elah, apaan seh, orang tadi cuman ktemuan kebetulan aja, ini malah wawancara aja, ntar aja kali blm siap orangnya”. Mas budi : “ada CV-nya?, ntar kasi IIS aja”. Eka : “blm tau ada apa gak, diliat dulu”. Saya pun menjelaskan kepada posisi kerjaan yang ditawarkan tersebut gambaran umum pekerjaannya seperti apa dan bagaimana sistem outsource di sini. Kebetulan lagi, lagi lagi kebetulan posisi yang ditawarkan adalah yang berhubungan dengan SAP dan java, dan ketika ditanya oleh mas Budi si Eka menjawab bisa untuk kedua applikasi ini. Saya meminta Eka untuk mengirimkan CV-nya dan jika di laptopnya sudah ada maka tinggal dipindahkan saja supaya nanti saya yang mengirimkannnya ke teman saya tersebut. CV pun ditemukan di flash disknya dan dipindahkan datanya ke laptop kerja saya, kemudian saya kirimkan melalui email saya ke mas Budi.

Awalnya saya menganggap biasa saja peristiwa ini, namun setelah beberapa jam Eka keluar dari kantor saya dan ingatan memanggil saya ke sebuah hal, peristiwa sederhana ini membuat saya berpikir mendalam dan terlintas pernyataan “Betapa banyak cara Allah membukakan jalan rezekinya”, “Saat pintu rezeki itu dibuka maka semuanya diberikan kelancara karena Dialah yang maha kaya dan maha Kuasa”. Terimakasih yaa Mughniy, Yaa Ghaniy Engkau telah bukakan pintu hati dan pikiran dan jasad ini untuk berusaha memahami semua ini di tengah hati yang tengah teiris sembilu dan terombang-ambingnya perasaan dalam penyerahan karena merasa sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Yaa Allah, semoga kejadian sederhana ini merupakan jawaban atas pertanyaan dan pernyataan hati yang terangkum dalam do’a dan munajat kepasrahan. Engkaulah yang maha tahu dan penguasa. Tidak ada yang dapat mencegah jika Engkau telah memberi dan tidak ada yang dapat memberi jika Engkau mencegah, alangkah maha luas pemberianmu.(IUR)

Posted in I-Heart to Heart | 1 Comment »

TANDA-TANDA HATI BERIMAN

Posted by Iswarti Utami on June 24, 2009

Diumpamakan seperti tanaman, kondisi dan perlakuannya sama tetapi hasil yang tumbuh berbeda -> hal ini tergantung tanahnya.

Tanah diibaratkan dengan hati. Tanah yang subur ditanami apa saja makan akan tumbuh. Begitupula dengan hati yang bening, maka akan mudah diberikan nasihat serta banyak melakukan amal-amal sholeh

Hati yang selamat/QOLBUN SALIM/hati yang bening :

1. Cinta kepada Allah dengan amat sangat

Contoh :

-  Orang yang shalat qiyamullail

-  Menghiasi lisan dengan ayat-ayat Al-qur’an

-  Bisa dilihat dari ibadah-ibadah yang dilakukan

Al-Baqarah 165 : Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah…

Ciri-ciri :

  • Rela berkorban
  • Rela menanggung resiko
  • Sesuatu ujian yang berat menjadi ringan
  • Perasaaan takut ditinggal oleh Allah.

2. Kembali dan bergantung kepada Allah. Susah, senang curhat kepada Allah. Obat, senjata, satpam jangan membuat ketergantungan kepada Allah berkurang.

3. Asik dalam beribadah

-  Sholat adalah tempat beristirahat -> “Hai Bilal, istirahatkanlah kami dengan sholat”

- Menghormati dan menyegani Allah

4. Rindu kepada Allah

Setiap ada panggilan kepada dari Allah bergegas untuk melaksanakannya.

5. Tentram bersama Allah

Hati damai karena dekat dengan Allah.

6. Memperhatikan waktu

- Cemas jika waktunya sia-sia

- Pelit terhadap waktu, setiap saat bernilai

1 Menit berarti -> “Barang siapa mengucapkan Subhanallahil ‘Adhim akan ditanamkan pohon kurma di surga”

Kualitas diterima/tidaknya ibadah berdasarkan 2 parameter :

-         Keikhlasan

-         Sesuai dengan syariat/tuntunan.

7. Orientasinya hanya kepada Allah.

Orang yang beriman melihat dosanya seperti gunung, sedangkan yang berdosa melihatnya seperti lalat yang hinggap.

8. Lunak untuk berdzikir

- Hati yang bersih adalah perkataan-perkataan yang bagus

- Berhati-hatilah dengan lisan karena merepresentasikan hati.

Disalin dari sebuah catatan dengan hanya sedikit perubahan redaksional (materi disampaikan oleh sang guru, terimakasih untuk materi ini).

Posted in I-Note | Leave a Comment »

Sedang Mencari Lagunya Rheza

Posted by Iswarti Utami on June 24, 2009

Hi Semuanya,

Secara kebetulan, selagi menulis menggunakan laptop tersayang (menyalin tulisan dari kertas-kertas yang tak bertuan dan belum tersusun dimana induknya) sambil mendengarkan radio terdengar lantunan suara Rheza. Yup, salah satu penyayi wanita di Indonesia yang saya favoritkan karena suaranya yang khas dan vokal yang kualitasnya tidak perlu diperdebatkan. Saat saya menulis, lagu yang diputar berjudul “Ketulusanku”, lumayan syair dan suaranya, belum meninggalkan kekhasan Rheza.

Sebenarnya bukan lagu ini saja yang ingin saya kumpulkan dari sang Rheza, saya sedang mencari lagu-lagu Rheza yang dulu-dulu juga, lebih-lebih lagu duetnya dengan orang Jepang. Bagi yang memiliki koleksi lagu Rheza, tolong kemurahan hatinya supaya saya bisa menyalinnya ke dalam media penyimpan pribadi saya.

Terimakasih teman-teman semuanya.

Posted in I-Playlist | Leave a Comment »

Merasakan kembali weekend di Kosan

Posted by Iswarti Utami on June 21, 2009

Alhamdulillah,

Satu kalimat ini yang bisa merepresentasikan betapa besarnya nikmat yang telah Allah berikan kepada saya, keluarga serta teman-teman saya. Setelah beberapa minggu belakangan menghabiskan weekend di beberapa kota dan bersilaturrahim dengan teman serta saudara, Alhamdulillah weekend kali ini bisa menikmatinya di kosan sendiri. Terimakasih ya Allah untuk semua ini.

Banyak cerita, masukan serta pengalaman yang ingin saya bagi di sini tentang perjalanan weekend ke beberapa kota. Sebutlah weekend ke Kalimantan : di sini saya bisa melihat alangkah besarnya nikmat Allah untuk negeri ini, kaya akan alam dan pemandangan yang subhanallah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Weekend ke Singapura-Kuala Lumpur : saya bisa bertemu dengan teman-teman lama saya dan di sana di-service penuh (terimakasih Yaya, Gita @ Sin dan Anita @KL). Weekend ke Bali : saya dipertemukan kembali dengan teman sekamar sekaligus teman curhat saya ketika melaksanakan ibadah haji tahun 2006 kemarin (terimakasih Bapak Arif dan Ibu Wati). Sempat libur dulu untuk trip dikarenakan ada momen wisuda pasca sarjana saya yang jatuh pada tanggal 6-6-2009 (beda tipis dengan wisuda sarjana saya yang jatuh pada 7-7-2007). Seminggu setelah itu, melanjutkan perjalanan di saat weekend ke Makassar, Alhamdulillah kembali saya dijemput oleh saudara&abang sekaligus guru spiritual bagi saya (terimakasih mas Helmi dan keluarga-Mbak Maryam, Syihul dan Fairos). Yeah, minggu ini saya ber-weekend ria di Jakarta tercinta untuk kosanku tersayang. Mempertimbangkan minggu ini tidak ada acara, maka saya pun berinisiatif untuk mengadakan pertemuan dengan teman-teman alumni SMUNSA Bangkalan yang ada di Jakarta. Hal ini dipicu oleh permintaan salah satu teman saya yang mengajak untuk mengadakan acara kumpul-kumpul. Sebenarnya sudah sejak lama, kami ingin mengadakan acara kumpul-kumpul ke seaworld atas permintaan istri teman saya yang saat itu sedang hamil muda, tapi karena kesibukan masing-masing permintaan itu belum bisa direalisasikan. Setelah menghibungi beberapa perwakilan dari beberapa angkatan yang berbeda dengan respon yang positif selanjutnya informasikan melalui sms, yahoogroups dan YM serta Facebook.

Ternyata oh ternyata, agenda tidak berhenti di situ saja, akan tetapi ada event dan agenda yang lain yang tiba-tiba datang. Si pika (Rafika, red) meng-sms saya dengan nada mengancam (lebai ini ya, tidak usah dipertimbangkan) untuk merancang pertemuan dengan anak-anak sejururan-seangkatan bahwa salah satu teman kami ada yang mau membagikan undangan pernikahan dan yang bersangkutan juga ingin makan soto ceker di daerah Palmerah pada hari Sabtu. Wah, menarik juga ini ancaman, dengan tanpa ba bi bu, saya pun langsung respon OK bisa karena lama juga (sebulanan) tidak bercengkrama dengan manusia-manusia ajaib itu.

Tak berhenti di situ, teman-teman alumni MT pun bermaksud untuk mengadakan pertemuan (syuro-rapat-musyawarah) mengenai perkembangan forum alumni MT yang dalam hal ini dispesifikkan untuk tim sosialisasi saja. Bersyukur sekali, karena sms reminder yang saya kirimkan ke beberapa orang tim sosialisasi mendapatkan respon yang positif.

Dengan demikian, weekend pun mereduksi aktivitas di dalam kamar yang masih banyak pendingan (tenang ya, nanti aku lanjutkan lagi). Pertemuan dengan beberapa teman MT dan SK memberikan kesegaran jasmani dan rohani setelah beberapa hari terjebak dalam rutinitas kantor yang hanya terpaku pada satu konsentrasi. Sementara berkumpul bersama mereka, mampu mengendorkan kembali syaraf-syaraf muka dan otak. Terimakasih teman-teman telah membuat saya muda kembali dan berkreativitas lagi.

Selanjutnya mari kita realisasikan agenda yang telah kita bicarakan di depan KDB dan di kosan. Ok, success to you All!.

Terimakasih ya Allah untuk nikmat ini. Terlalu banyak jika saya ceritakan apa yang telah terjadi dalam satu hari itu. Hanya satu, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, berikanlah kemampuan dan kekuatan untuk menjaga semua ini.

Ar-Rahman : “Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan”

-IIS-

Posted in I-Heart to Heart | Leave a Comment »

Huff..Kapan bisa punya usaha sendiri

Posted by Iswarti Utami on May 27, 2009

Alhamdulillah,

Kembali lagi ke dunia maya dengan semangat yang berosilasi untuk menulis, susah juga ya jika mau menjadi seorang penulis professional, sering tidak klop antara mood dan waktu, ya begitulah adanya harus terus dipkasain untuk menulis supaya terbiasa. Berdasarkan kata pepatah “Ala bisa karena biasa”, maknya mari saya biasakan menulis supaya bisa.

Terjebak dalam rutinitas yang senantiasa dicarikan titik enjoy-nya oleh sang jiwa ini. Walaupun fisik tidak terlalu diforsir, tetapi ketika sudah sampai rumah singgah yang mengasyikkan ini rasa capeknya baru terasa dan hanya bisa berkata “huffffff”, “rutinitas oh rutinitas”.Terbesit dalam pikiran “kapan saya memiliki usaha sendiri”, berani melangkah dan mencoba untuk mengaktualisasikan harapan dan impian yang selama ini tersimpan atau terlontar.

Punya kantor sendiri di rumah, rasanya hal yang mengasyikkan mungkin, tidak terbatas oleh waktu dan bebas melakukan apa yang disuka namun tetap dalam batasan-batasan tertentu (bebas dan bertanggung jawab dengan tetap introspeksi dan koreksi).

Ada masukan dan saran mungkin dari rekan-rekan sekalian?

Ditunggu ya!

Posted in I-Heart to Heart | 2 Comments »

Eksis Kembali

Posted by Iswarti Utami on May 20, 2009

Alhamdulillah, sekarang bisa eksis kembali di dunia maya dan bisa mengupdate secara berkala blogku

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Dimanakah Load Balancer itu?

Posted by Iswarti Utami on March 13, 2009

Bismillahirrahmanirrahim,

Kerinduan akan menulis menjadi suatu hal yang susah-susah gampang, susah karena waktunya selalu tidak pas dan keterbatasan infrastruktur, gampang karena apa yang mau dituliskan sudah tertuang dalam lisan dan pikiran tinggal men-convert saja menjadi rangkaian kata-kata terpilih saat itu.

Setelah sekian lama tidak berkunjung di blog ini, ingin rasanya menuliskan semua hal yang telah dialami menjadi rangkaian cerita yang bisa dibaca banyak orang dan syukur-syukur bisa menjadi sumber inspirasi positif bagi mereka. Jika saya harus mengolah dan melanjutkan intro ini mungkin tidak akan ada habisnya saya menyusun kalimat demi kalimat menjadi sebuah alinea dan paragraf yang tidak akan sampai-sampai pada judul thread ini.

Sengaja saya menuliskan judul ini karena diinspirasi oleh hal yang tadi malam saya temui selepas pulang kantor. Hari Jum’at boleh dikatakan hari implementasi nasional untuk wilayah kantor kami karena di hari ini dan 2 hari setelahnya mayoritas “pemilik” dan “pengelola” applikasi melakukan akses ke DR (Data Recovery)  dan Production. Applikasi-applikasi ini bisa implementasi jika sudah mendapatkan status “OK for implementation” dari tim dimana saya bernanung sekarang, status ok ini pun bisa didapat jika sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Sekitar jam 1/2 9 malam kami bertiga (jumlah tim kami ada 5 orang, 2 orang sudah pulang  pulang duluan) bersiap-siap pulang dan seperti biasa ada saja yang menghalangi jika ingin pulang, seperti adanya diskusi dan lobi untuk bisa meng-Ok-kan applikasi mereka (saya hanya mendengarkan dan menjawab jika ada yg perlu saya jawab, selebihnya memilih diam). Kami keluar dari meja kerja kami yang berbentuk kubikal menuju lift. sebelum keluar dari pintu sambil mencari-cari access door masing-masing (kecuali saya, karena access saya statusnya sudah “invalid time zone”) terbukalah sebuah diskusi (anggaplah namnya A dan B)

A dan B : malam terus niy pulangnya, belum lagi klo NCBS udah mulai go live, lebih malam ini

A : Iya, sepertinya tiap hari kita pulang malam deh

B : Saya aja bawa kerjaan ke rumah

Saya sambil mendengarkan dan menjawab seadanya jika ada hal yang perlu saya komentari dan jawab

Sampailah kami di depan lift lantai 4 dan menunggu lift terbuka, diskusi pun berlanjut

A : B, jangan bawa-bawa kerjaan ke kantor, kapan waktu kita untuk mikirin diri sendiri, dulu saya begitu tapi sekarang saya sudah gak kasian anak2 saya jadi terbengkalai (saya hanya diam dan mendengarkan saja), hidup juga harus balance ada waktunya untuk kantor, jangan sampe seminggu buat kantor terus

Si B agak diam sesaat dan menjawab singkat, dan lift pun terbuka, kami pun turun dan memisahkan diri. Saya bersama dengan A karena kami satu arah pulangnya, sedangkan B menuju stasiun kereta api.

Saya dan A menuju parkiran dimana motor saya bersemayam, saya pun langsung mengatakan kepada si A

Saya : Bener juga ya mbak, kita harus menyeimbangkan hidup, antara kerjaan n pribadi

A : ya is, saya dulu juga gitu, kerja pulangnya malam dan kepikiran klo kerjaan belum selesai. Kerjaan gak akan ada habisnya. Klo kayak gitu, kapan waktu kita bersosialisasi

Saya : iya siy mbak, aku dulu juga pernah bawa terus aku simpen di hd eksternal, tapi ya gitu gak aku kerjain soalnya udah nyampe kosan udah malem trs tidur, n paginya bangunnya siang trs siap2 ke kantor. Setelah itu aku gak bawa2 lagi

Pernyataan dan nasihat teman ini saya pikirkan selama dalam perjalanan dengan bertanya kepada diri sendiri “dimanakah load balancer saya”? dan “keseimbangan seperti apa yang bisa saya jalani”?. Dengan pertanyaan ini terbesit dalam pikiran saya untuk membuat personal schedule yang memuat informasi tentang agenda harian dan target-target keseimbangan apa yang perlu saya raih dalam tiap aktivitas harian yang saya kerjakan. Untuk komponen-komponen balancer itu apa saja sebenarnya saya sudah mendapatkan jawabannya tapi belum benar-benar bisa saya realisasikan secara integral, saya masih mengkajinya bukan untuk menjadi sebuah hipotesa tapi berdasarkan result yang sedang saya lakoni.

Posted in I-Heart to Heart | Leave a Comment »