Bapak, Selamat Ulang Taun (Obituari Rindu)

Bismillahirrahmanirrahim,

3 Amal yang tidak putus; 1) Sedekah jariyah yang tahan lama, 2) Ilmu yang bermanfaat, 3) Anak shaleh (berakhlaq baik) yang mendo’akan kedua orang tuanya (HR.Muslim)

Rabb; karuniakanlah rahmat&syafaatMu untuk Bapak kami

1) Obituari yang diwakili oleh batu nisan
Tertulis; Lahir : 17 Januari 1932 (8 Ramadhan 1350 H), Wafat : 27 Desember 2000 (1 Syawal 1421 H)
Di usiamu yang tahun ini genap berusia 80 tahun
Sudah 11 tahun lebih engkau meninggalkan kami
Ketiadaanmu adalah hal yang menyakitkan
Begitu menyedihkan
Menyayat-nyayat hati dan jiwa

 2) Selamat ulang tahun Aba;
Semoga ampunan Allah senantiasa mengiringimu di alam barzah
Dengan ampunan itu menerangkan dan melapangkan tempat istirahatmu di sana
Selamat ulang tahun Aba;
Semoga rahmat dan syafaat dari Sang Pengasih dan Penyayang
Selalu tercurah untukmu, menjadi pintu pembuka bagi gerbang-gerbang surga kelak
Selamat ulang tahun Aba;
Semoga teladan kebaikan yang telah engkau contohkan semasa hidup
Bisa kami lanjutkan dan menjadi amalan pemberat bagimu

Allahummafighli Dzunubi Waliwalidayya Warhamhuma Kama Rabbayani Saghira

3) Aba; pasca ketiadaanmu aku mulai membaca lembar-lembar perjalananmu
Untuk apa?
Untuk menghilangkan zona kemanjaan dan keegoisan yang sering kali berkecamuk dalam diri
Lembar yang benar-benar membuka bashirah
Aba; maaf atas segala khilaf dan dosa yang pernah aku perbuat
Maaf jika ada tutur yang kasar lagi keras
Maaf jika ada  sikap yang kurang beretika
Maaf jika ada prasangka-prasangka yang tak pantas
Allahummafighli Dzunubi Waliwalidayya Warhamhuma Kama Rabbayani Saghira
Yaa Latief, lembutkanlah tutur dan pikirku sebagaimana Bapak telah mengajarkannya padaku
Yaa Hakim, berikanlah kemampuan kepadaku untuk bersikap bijaksana sebagaimana Bapak juga telah mengajarkannya dan memberikan teladannya kepada kami

4) Rabb; saat kerinduan kami datang akan sosok Bapak tercinta
Hanya do’a yang bisa kami panjatkan dan hanya dengan mengingatMu hati menjadi tenang
Tersungkur kami dalam sujud kami
Terlena kami dalam tilawah kami
Sesenggukan kami dibuatnya dan pada saat bersamaan meneteslah air mata ini
Kehilangan dan perpisahan betapa mengajarkan kepada kami bahwa moment sederhana dan kebersamaan adalah hal yang paling tidak terlupakan
Kehilangan dan perpisahan juga mengajarkan kepada kami arti saling memiliki satu sama lain; cintai yang kita miliki, miliki yang kita cintai
Kehilangan dan perpisahan juga telah mengajarkan kepada kami betapa terbiasanya kami memiliki, dan ketika milikMu Engkau ambil betapa sedihnya kami
Rabb, Yaa ‘Ilmu Yaa Dzahir Yaa Bathin; ajari kami untuk memahami semua ini

5) Rabb; ketiadaannya adalah kerinduan yang tak terobati
Tak lagi kami temukan senyumnya, tak lagi kami dengar nasihatnya
Sekali lagi kerinduan itu adalah tetesan air mata dan luka yang makin menganga
Begitu perih, serasa disiram air garam
Dan seketika itu  ilmuMu hadir Yaa Rabb; teruslah melangkah dan tetaplah tersenyum pada dunia dan berjabat tanganlah dengan masalah
Meskipun sejatinya hati sedang tersayat-sayat

6) Bapak; kehilanganmu adalah titik nol bagi kami
Kami berhenti sesaat untuk melangkah dan berlari kembali
Meski pasang dan surut kehidupan melanda kami
Nasihat dan semangat yang pernah engkau tanamkan
Menjadi modal kami untuk terus melakukan perbaikan dan mempersembahkan yang terbaik
Di titik itu; kami jumpai baris-baris hikmah yang seringkali sulit kami wakilkan dengan kata-kata dalam baris yang sempurna
Terimakasih Aba, atas didikan masa kecil yang telah diberikan; sarat makna, sarat hikmah dan selalu diiringi nilai-nilai kebijaksanaan serta kebenaran universal

7) Rumi memang benar “Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang, Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran”
Kehilanganmu adalah pemahaman akan nilai-nilai hidup
Pemahaman akan hadir di luar jangkauan logika; seringkali tersembunyi, rahasia dan malu-malu
Pemahaman pun melahirkan kesadaran diri
Untuk mengakui realitas yang begitu kontradiktifnya dengan jiwa
Dan pernyataan Jalaluddin Rumi adalah bagian dari surat untuk jiwa
Sadarlah; bahwa tanpa kehadirannya, hidup mesti terus berjalan walau penuh dengan air mata

(8) Kerinduan ini biarlah berlalu
Semacam obituari bersama waktu
Namun do’a inshaAllah akan selalu tercurah untukmu; bapakku sekaligus guruku, motivatorku dan sahabat terbaikku

(9) Kehilangan memang menyisakan air mata yang mendalam
Namun apakah dengan tangisan mampu mengembalikan jasad yang telah terpisah dari rohnya
Hanya dengan untaian do’a keikhlasan dari para buah hatinyalah yang mampu menembus dunia yang berbeda
Sebagai bukti atas bentuk pengabdian; bukan hanya sebagai anak, tapi juga sebagai hamba

10) Rabb, jangan hilangkan Rahmat dan Kasih SayangMu dari kami
Karena dengan itu kami menjadi kuat kembali
Setelah diporak-porandakan oleh gelombang kehidupan

11) Dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun
Selalu hadir wajah Tuhan untuk orang-orang yang kita cintai
Semoga rasa cinta kami untuk Bapak kami semakin membuat kami mendekatkan diri padaMu
Semoga rasa kehilangan kami untuk Bapak kami menjadi jembatan introspeksi untuk lebih mengenal cintaMu yang tak pernah hilang dan berkurang
Semoga rasa rindu kami untuk Bapak kami menjadi penajam dan pegikhlas atas do’a-do’a yang kami panjatkan……Yaa Rahman, Yaa Rahiim, Yaa Hayyu, Yaa Qayyum, Yaa Mujib, Amin Allahumma Amin

****

Selamat ulang tahun Abaku tercinta, maaf jika selama hidupmu belum pernah aku mengucapkannya atau sekedar memberikan kado kecil-kecilan. Semoga tulisan ini menjadi kado istimewa untukmu dan bagian dari rahasia pemahaman yang sedikit demi sedikit mulai memasuki titik kesadarannya menuju makna dari suatu eksistensi dan tanggung jawab diri. Al-Fatihah Khususon Ila (Ruhi) Abdul Rasjid Ali Rachbini Bin Abdul Latief…Bismillahirrahmanirrahim; Alhamdulillahi rabbil’alamin arrahmanirrahim,maliki yaumiddin, iyyakana’budu waa iyya kanas ta’in, ihdinasshiratal mustaqim, shiratal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdzubi ‘alaihim waa laddzollin.. Amin.

- yang paling bungsu -

Posted in Arasy, Ismi | Leave a comment

Pendalaman Budaya Madura;Museum & Kerapan Sapi

Alhamdulillah,

Setelah sekian lama tidak menuliskan tentang Madura, terpicu juga untuk sedikit berbagi tentang pengalaman pribadi yang menjadi momentum pengenalan, pengetahuan dan pemahaman akan budaya Madura. Jadi semakin cinta dengan Indonesia; negeri yang memiliki aneka ragam budaya.

Pengalaman ini saya dapatkan ketika tahun yang lalu saya banyak menghabiskan waktu di Madura. Kesempatan ini pun saya pergunakan untuk mempertajam kembali kemaduraan saya yang sering disangsikan oleh teman saya sendiri yang orang Madura, maupun orang lain yang bukan orang Madura, kenapa demikian? panjang ceritanya jika diceritakan dan jadi OOT (out of topic, red). Padahal, dibalik kecuekan saya akan Madura, sebenarnya saya adalah pemerhati dan pencinta Madura. Tentu saja, kalau boleh jujur, jika tradisi dan budayanya agak-agak menyimpang dari cara berpikir saya dan terkesan mengandung elemen-elemen yang tidak penting secara spontan kadang saya by pass atau cut saja, mohon maaf ya buat nenek-nenek dan kakek-kakek moyang. Ok, langsung menuju TKP judul ya, saya mulai dari museum dulu.

MENGUNJUNGI MUSEUM CAKRANINGRAT BANGKALAN 

(2010) Kunjungan Perdana

(2011); Kunjungan Bersama Murid Gede2

(2011); Kunjungan Ketiga

Selama saya berada di Madura, selamat saya berhak mendapatkan piring dan gelas cantik karena sudah 3 kali saya mengunjungi museum ini; di tahun 2010 sekali dan di tahun 2011 sebanyak 2 kali. Pastinya, saya tidak sendirian ke museum ini, saya bersama dengan murid-murid saya yang belajar di rumah. Kenapa saya mengajak mereka? jelas alasannya; kita adalah bangsa yang berbudaya dan sudah seharusnya kita memperkenalkan budaya sejak dini, khususnya budaya daerah dimana kita tinggal. Dengan demikian, ketika sudah dewasa kelak mereka dapat melestarikan nilai-nilai budaya yang baik dan memperkenalkannya ke elemen-elemen yang lain, baik yang berbeda daerah maupun bangsa. Itulah ide dasar saya kenapa mengajak mereka. Selain itu juga, supaya saya tidak sendirian di museum, karena tidak lucu juga jika saya satu-satunya yang menjadi pengunjung.

Ada apa saja di dalam museum ini? jawabannya rahasia; ada benda-benda bersejarah :) . Sedikit berbagi saja, di dalam museum ini ada beberapa benda yang menjadi kekhasan orang Madura : clurit, batik Madura, rumah Madura, alat kesenian ala Madura, raja-raja Madura, piring-piring jaman dulu, peralatan memasak dan peta-peta (situs yang baru saya tahu dan belum sempat saya kunjungi, ckckckck; jadi ingin berwisata budaya yang ada di Bangkalan). Ouw ya, dan lain-lainnya hampir ketinggalan.

Alat Kesenian Madura

Lay Out & Arsitektur Rumah Madura Jaman Dulu

Alat Tempur Buat Memasak

Corak Batik Madura Dengan Warna Khasnya; Merah, Hijau, Coklat

Bukan di Museum, di Pengrajin Batik Langsung @Tanjung Bumi

Jika ada yang berkata dan berargumen “ngapain siy ke museum, kayak gak ada kerjaan aja”, maaf ya saya hanya bisa membalas dengan senyuman, susah saya menjelaskannya dengan kata-kata bagi orang-orang yang  kurang menghargai budaya. Kalau semuanya berpendapat seperti itu, jangan ngambek dan sok-sok nasionalis jika kebudayaannya diambil bangsa lain.

Ada beberapa pelajaran berharga dari kunjungan saya ke museum ini :
1. Pengenalan secara langsung tentang nilai-nilai orang Madura ke murid-murid, karena sering kali saya merasa kurang bisa memberikan penjelasan yang lengkap jika ditanyakan terkait dengan Madura yang sudah tingkat mendalam.
2. Mengajarkan kepedulian terhadap kebudayaan lokal sejak dini, bukan untuk menjadi orang yang fanatik  sempit akan ras dan budayanya, tapi jadilah orang yang terbuka dan mau berinteraksi dengan orang dari budaya dan ras manapun.
3. Menambah pengetahuan terhadap beberapa hal akan nilai-nilai Madura yang sempat sirna dari memori. Tentunya sebagai orang Bangkalan mengenal yang namanya Syaichona Kholil; setiap malam Jum’at orang-orang dari luar maupun lokal banyak yang berziarah ke makam beliau. Baru tahu dari museum, bahwa beliau menghasilkan karya tulis antara lain bisa dilihat pada gambar di bawah ini :

Karya Beliau

4. Perlunya pendidikan budaya, khususnya bagi petugas yang menjaga dan bertugas. Untuk apa? untuk menginternalisasi nilai-nilai kebaikan yang tersurat maupun tersirat di dalamnya. Jadilah petugas yang berbudaya terhadap pengunjung dengan bersikap ramah dan menempatkan diri dengan semestinya dengan cara menyediakan informasi yang cukup dan tidak membingungkan bagi pengunjung. Jangan hanya duduk-duduk, karena budaya adalah representasi suatu bangsa atau daerah. Jika petugas kebudayaan saja kurang ramah, dimanakah letak nilai-nilai kebaikan kebudayaan itu sendiri?.
5. Untuk kesekian kalinya mengunjungi beberapa macam museum, baik yang di kota maupun di daerah, terlihat bahwa jumlah pengunjung tidak begitu banyak, malah bisa dihitung dengan jari, padahal harga tiket masuknya lebih-lebih murah dibandingkan harga bakso. Jika boleh memberikan masukan, perlu dilakukan publikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah. Kalau bisa, museum dijadikan sebagai tempat kegiatan murid untuk menggali informasi terkait beberapa mata pelajaran khusus, seperti : sejarah, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, geografi, sosiologi. Tujuannya apa? mereka semakin dekat dengan materi yang diberikan, bukan sekedar contoh di buku, tapi mereka bisa melihat langsung bentuknya. Selain itu, pengelola museum dan pemerintah pun sebaiknya memberikan variasi acara yang membuat pengunjung tertarik untuk datang ke museum; jangan hanya menyuguhkan benda-benda bersejarah yang bisa dilihat dan ditatap, tapi cobalah untuk menghidupkannya seperti misalnya : pagelaran musik dengan komposisi modern dan klasik yang digabungkan, cerdas cermat bernuansa budaya, atau mungkin pagelaran budaya yang mengangkat tema-tema tertentu yang kompatibel dengan trend yang sedang berkembang. kembali lagi ke masalah kreativitas dan keterbukaan. Kalau komponen museumnya saja tidak mau terbuka dengan sekitar, jangan salah jika sekitar menutup diri dengan museum. Tiba-tiba kepikiran; kenapa tidak dibuatkan saja acara “MUSEUM OPEN HOUSE”, terbuka untuk anak-anak panti asuhan, jalanan dan beberapa elemen masyarakat yang lain #hanya lamunan sesaat.
6. Ada edukasi budaya, perlu juga yang namanya aktualisasi budaya karena pendidikan tanpa praktek hanya akan meninggalkan teori-teori indah, bisa juga dibilang berkarya kata tanpa karya nyata. Ada ragam cara untuk aktualisasi dan ekspresi budaya, misalnya kesenian dan tulisan. Kenapa kesenian dan tulisan? Bapak saya adalah salah satu contoh terdekat untuk hal ini, kepedulian dan aktualisasi beliau ketika saya masih kecil dulu (saat belum mengerti tentang budaya) menjadi inspirasi dan motivasi di masa dewasa saya untuk semakin mendalami budaya Madura; budaya yang menghiasi masa-masa kecil saya, dan di masa dewasa banyak membayang-bayangi langkah saya. Bapak saya bisa memainkan beberapa kesenian khas Madura, dan untuk tulisan? tak usah diragukan, karya-karya beliau dalam bentuk artikel berbahasa Madura, pantun Madura, caraka Madura tertulis dengan tangannya yang rapi dan sangat eduktif, menghibur dan inspiratif.

MENONTON KERAPAN SAPI

Ngilmu Kerapan di 2010 dari Mereka

Keseriusan Kerapan di 2011, Mana Jackie?

Menikmati aroma Madura dengan kekhasannya membuat saya semakin tertarik mendalami budayanya. Sejak berada di Madura, saya 2 kali menonton event ini. Yang pertama kali adalah di tahun 2010, dan yang kedua adalah tahun 2011. Di tahun 2010, saya diajak dan ditemani oleh murid-murid saya, sedangkan di tahun 2011 saya diajak dan ditemani murid-murid dan sepupu saya. Kalau boleh jujur, inilah keseriusan saya menikmati dan menonton kerapan sapi, karena sebelumnya hanya menonton jauh dari arena pertandingan dan hanya beberapa menit karena masih tercipta persepsi menakutkan di kepala tentang orang-orang yang menonton di dalamnya dan sapi-sapinya sendiri. Lagi-lagi, seringkali persepsi menghambat dan membuat mindset jadi tidak berkembang. Berbekal keseriusan ini, saya pun mendapatkan beberapa pelajaran menarik dari ajang perlombaan prestisius bagi orang Madura tersebut. Anak kecil yang mengajak dan menemani saya mengajarkan saya tentang kerapan sapi dan elemen-elemen di dalamnya. Jujur lagi, saya tidak begitu mengenal perangkat tempur untuk kerapan sapi, tapi mereka? alamak!!! tahu semuanya, yang ini gunanya untuk apa dan yang itu untuk apa. Sedangkan saya, namanya saja tidak tahu dan baru tahu dari mereka, padahal dulu sering diajari oleh Bapak, dan lagi-lagi karena tidak bersentuhan dengan objek secara langsung sehingga memori saya cepat melupakannya. Tak heran jika pelajaran Bahasa Madura semasa SD sering mendapatkan nilai jelek, “benar jika kemaduraan saya sering disangsikan”. Kalau sekarang, mari silahkan diadu :) .

Kerapan sapi yang saya tonton di tahun 2010 adalah kerapan sapi asli Madura, sedangkan kerapan sapi yang di 2011 adalah kerapan sapi Turis. Apa letak perbedaannya? kalau kerapan sapi asli adalah benar-benar keturunan Madura asli; Sapi jantan dan betinanya berasal dari Madura. Sapinya tidak terlalu besar, padat dan berisi, larinya kencang, stamina ok punya (jelas sekali, efek samping ramuan Madura mungkin). Jadi yang bertanding di ajang ini harus benar-benar sapi lokal, sapi indo dilarang untuk bertanding. Sedangkan untuk kerapan sapi turis adalah ajang kerapan untuk sapi-sapi yang telah mengalami perkawinan silang dengan suku bangsa dan ras yang lain, biasanya sapinya besar-besar dan gemuk.

Ada hal menarik yang saya dapatkan di kerapan sapi 2010 :

Dek; ati2 ya, bersedia..siap..yak!!!

1) Jokinya adalah anak kecil, lantas muncul pertanyaan dari saya ke anak-anak.
saya : ya ampun, mengerikan, gak bahaya tuh?
mereka : justru klo anak kecil, larinya sapi lebih kencang karena gak keberatan
saya : ya ya ya
2) Melihat sapi yang berdarah-darah di bagian badannya sebelah belakang
saya : astaga, kenapa bisa begitu? kasian amat sapinya
mereka : iya emang gitu, sapinya mesti dipecut supaya larinya lebih kencang (maybe life is seem like that)
saya : ok

Sapi ngamuk, kabur lari !!!

3) Kondisi agak kontradiktif karena becek dan teriknya ampun-ampunan, saya pun mendekat ke arena line finish sapi dikerap, anak-anak melarang saya karena berbahaya, dikhawatirkan sapinya mengamuk dan larinya kemana-mana (bungkus, thanks my heroes). Kami pun berpindah titik di sampingnya, dan sedikit demi sedikit mendekat ke titik start dimana sapi-sapi akan dikerap. Hmmm, cukup lama persiapannya sebelum sapi benar-benar dilepaskan, mulai dari posisi alat-alat tempur kerapnya sampai dengan posisi jokinya. Dan ini dilakukan oleh banyak orang, dan seketika sapi akan dilepaskan secara serentak mereka berteriak (oalah, begitu ya yang namanya kerapan sapi).

Lama di persiapannya, Banyak orang lagi

4) Para murid juga menginformasikan ke saya kalau sapi-sapi sebelum bertanding diberi minum jamu dulu dan beberapa racikan yang lain yang harganya mahal mengalahkan makanan majikannya.
5) Melalui sang MC, saya baru tahu kalau kerapan sapi secara historis adalah bentuk perayaan para petani karena telah panen. Selengkapnya silahkan tanya sama tetua-tetua Madura.

Sedangkan di moment 2011, seorang sepupu saya memberikan saya beberapa informasi terkait kerapan sapi :

Antara Sapi dan Saya

1) Fifin :”tadi lihat kan mbak?, orang yang pake baju hitam jalan mondar-madir, cincinnya banyak, hampir di semua jarinya” (gaya yang madura abis. Karena saya bukanlah pemerhati objek orang, maka saya katakan kepadanya “enggak, emang kanapa?”, Fifin : “itu dukun mbak”, saya :”buat apa?”, Fifin :”biar menang”, saya: “pantesan aja mondar-mandir dari tadi, penasaran jadinya”
2) Melihat-lihat stand-stand sapi diistirahatkan, akhirnya bisa melihat lebih dekat aksesoris yang dikenakan para sapi-sapi tersebut sebelum dikerap.

Beda, diantara keramaian homogen

3)  Di tengah-tengah hiruk pikuk dan panasnya suasana kerapan sapi ada 2 orang pelukis yang duduk santai, entah melukis kerapan sapinya ataukah latar tempatnya yang berisi sapi-sapi (seniman memang selalu memilih berbeda di tengah anggukan yang sama)
4) Wah, bang Jack rupanya menjadi tamu untuk event kali ini. Sedang libur shooting mungkin. Sosok Dedy Mizwar hadir di tengah-tengah perhelatan itu, hal ini saya ketahui dari MC. Sosok yang pernah saya temui langsung saat menemani adik teman saya wawancara untuk tugas akhirnya; terbuka, apa adanya, santai dan rendah hati. Ada pernyataan beliau yang saya ingat saat menonton film para pencari Tuhan :”Musuh dan sahabat sama saja ada di hati dan pikiran kita, yang berbeda hanya RASANYA saja. Yang terpenting, dekat dulu saja, mau jadi musuh atau sahabat itu PILIHAN” (pembelaan bang Jack saat akan mendekati seorang perempuan, bisa aja ya Bang, tapi nice quote kok).

***

Hal tersirat apa yang ingin saya sampaikan dari cerita di atas? singkat saja kok, bahwa pemahaman akan budaya tidak cukup dengan hanya membaca buku-buku dengan penulis yang handal, diperlukan kedekatan yang signifikan dengan budaya yang bersangkutan agar nilai-nilainya mampir di kepala lalu melekat ke hati. Bagi saya, budaya Madura “not just in my head, but also in my heart”. Jika ada penilaian skeptis tentang budaya Madura khususnya, dan budaya Indonesia pada umumnya “mohon maaf line saya sedang sibuk untuk mengomentari atau merespon hal-hal tak penting itu”. Saya memberikan apresiasi yang positif bagi orang-orang yang peduli dengan budaya, dalam apapun bentuknya, karena merekalah nilai-nilai budaya tetap lestari diantara terjangan nilai-nilai yang sok-sok westernisasi, padahal mengerti saja tidak (ini bilang ke saya loh ya).

Tak bisa dipungkiri bahwa kita adalah para pelaku sekaligus korban dari modernisasi, tapi bukan berarti melupakan budaya juga kan?. Ada begitu banyak macam cara dan aktualisasi akan kecintaan dan penghargaan kita terhadap budaya daerah, itu adalah pilihan. Biarkanlah kesangsian hadir silih berganti, toh tidak mengubah semangat saya untuk berusaha belajar kenakeragaman budaya sehingga bisa menjadi bekal dalam pengembangan kepribadian dan sosial yang saya jalani. Mesti disadari bahwa budaya dan sosial adalah dua dimensi yang tak terpisahkan satu sama lain; pemahaman dan aktualisasi terhadap budaya mendorong seseorang untuk peduli terhadap lingkungan sosial sekitar, dan kepedulian sosial tanpa memperdulikan budaya akan membuat seseorang salah menempatkan diri. Bisa juga dikatakan bahwa pendekatan budaya untuk memperlebar atau meningkatkan kualitas sosial dapat menjadi jalan bagi adopsi dan adaptasi nilai-nilai kebaikan bagi pengembangan personal dan sosial.

Sekian yang bisa disampaikan, jika ada pernyataan yang kurang berkenan, mohon koreksinya, karena saya bukanlah seorang budayawan, seniman maupun sosiolog. Hanya seseorang yang berusaha belajar untuk menikmati budaya saja melalui fenomena yang terjadi di lingkungan terdekat. Semoga hal ini bisa menggiring saya untuk bisa memperlajari budaya-budaya yang lain.

“Kemampuan manusia untuk peduli adalah sesuatu yang menjadikan hidup bermakna paling dalam.” – Pablo Casals (1876–1973), pemain celo dan dirigen terkemuka asal Spanyol

- Mari Peduli Budaya Dimulai dari Aktualiasasi yang Kecil -

Posted in Ismi, Madura | Leave a comment

Ketika Rhoma Bertemu Rima

Alhamdulillah Hujan Lagi, Menunggu Reda Lagi,

Rhoma dan Rima Bersanding

Hari ini, saya sengaja mengubah profile picture di salah satu media jejaring sosial yang saya miliki. Hal ini dipicu oleh komentar beberapa sepupu saya, karena kemarin mereka sengaja saya tag, moment itu diambil ketika resepsi sepupu saya-Fatima Zahro (Fatim, red). Kenapa saya menampilkan profile picture ini? ya jelas lah, beliau-beliau adalah bagian dari keluarga saya dan ini bagian dari penghargaan serta persembahan di tahun baru. Singkat kata; supaya beliau-beliau lebih akur lagi, tidak hanya di darat tapi juga di dunia maya.

(Ki-Ka);Anaknya Rhoma-Ponakan Rhoma-Rima-Anaknya Rima

Sangat kebetulan dan berjodoh sekali, pada saat menuliskan postingan ini, sepupu saya yang tidak pernah chat di jejaring sosial sedang menyapa saya. Hmmmm, rupanya foto itu membangkitkan rasa penasaran sepupu saya untuk lebih mendalami dunia Internet dan lebih dekat juga tentunya dengan saya karena ternyata oh ternyata setelah beberapa detik yang lalu chat dengan dia rupanya baru-baru ini dia membeli laptop baru. Alamat akan ada banyak pertanyaan untuk saya ini, seperti halnya setelah membeli kamera setahun yang lalu.

Rhoma Member Club

Ok, kembali ke foto itu; saya cukup terhipnotis dengan foto itu. Karena dalam sejarahnya saya bersih-bersih dan beres-beres di rumah saya belum menemukan album masa-masa  belia Ibu dan Paman bersamaan. Ya mungkin jamannya saat itu belum ditemukan teknologi kamera yang marak seperti sekarang ini. Maka dari itu, jika ada event kebersamaan dalam keluarga, saya lah yang sering jeprat-jepret mereka dan menjadi pengarah gayanya supaya beliau-beliau dalam satu foto dan jepretan. Sering kali sang paman yang tampil di foto di atas mengatakan “sering dijeprat-jepret, tapi tidak ada hasilnya”, spontan saya langsung tersenyum dan tertawa sambil mengatakan “ya iyalah Ba, wong fotonya udah masuk Internet, dan ada di dalam laptop, klo dicetak smua bisa bangkrut saya”, sang paman pun tersenyum mengalahkan senyuman Rhoma Irama.

Kenapa saya memberikan caption “Rhoma dan Rima Bersanding”. Hal ini dipicu oleh komentar salah seorang sepupu dari kakek yang sering mengatakan ke Ibu saya kalau beliau mirip salah seorang artis senior bernama “Rima Melati”, tentu saja Ibu saya kurang begitu mengenal artis ini, tapi saya sebagai anaknya cukup tahu tentang artis ini, ibu pun sering bertanya “emang yang mana Is “Rima Melati” itu, kok ponakan Ummi (namanya   Rani) sering bilang mirip sama dia”, terus saya balikin pernyataan saya “dia kali tuh yang mirip artis, aku perhatiin dia mirip Emilia Contessa”, mendengar itu ibu saya pun berpendapat “iya emang cantik sejak muda dia, walaupun gemuk dan sekarang sudah punya cucu banyak masih terlihat cantik”. Saya pun memperhatikan wajah ibu, kok iya mirip-mirip, tapi sepertinya cantikan ibu saya deh banyak :) .  Sedangkan kalau paman saya, sepupu-sepupu saya aka keponakannya sering menjuluki Rhoma Irama karena gaya berpakaian dan penampilannya sangat mirip dengan Rhoma, walaupun sudah memiliki cucu banyak tetap terlihat awet muda dan bajunya selalu rapi serta trendy untuk ukuran kakek-kakek.

Lah, pernyataan  sekaligus pertanyaan saya? kalau Paman dan Ibu-nya saja mirip artis, bagaimana dengan anak-anaknya? coba tanya aja sama sepupu-sepupunya pasti punya julukan dan kemiripan masing-masing.

Posted in Iseng | Leave a comment

Zona Kontemplasi

Inikah zona itu?

(1) Bersepeda menyusuri sawah di pagi hari
Sambil menantikan terbitnya sang fajar
Ditemani suara burung, gemericik sungai, semilir angin, dan tetes embun yang membasahi rerumputan
Menghadirkan zona kontemplasi yang mengajarkan arti ketenangan dalam kesederhanaan

Bersama Nurul

Bareng Fifin

(2) Memarkir sepeda
Kemudian duduk di pinggiran sungai
Lalu berpindah ke jembatan yang berada di dekatnya
Ditemani kerbau yang sedang merendamkan badannya
Dan sapi yang sedang membajak sawah
Serta hilir mudiknya orang di tepian sungai
Menghadirkan zona kontemplasi yang mengalirkan semangat

Po'on Rambutan Depan Rumah

(3) Menikmati setiap sudut rumah,
Mulai dari kamar, berpindah ke “studio” pribadi lalu ke teras depan
Ditemani alunan musik pilihan
Menciptakan zona kontemplasi yang menggiring kreativitas

Inside Al-Falah, Burneh

Lintas Generasi, Lintas Usia

(4) Melangkahkan kaki menuju masjid
Dalam balutan mukena
Ditemani generasi yang sudah banyak makan asam garam kehidupan
Dan juga generasi yang masih ranum dan menghijau
Menghadirkan zona kontemplasi yang mengajarkan makna di balik usia dan pencapaiannya

Na-Fik-Is-Din

Ummi trust me; I've been growth, not that little kid

(5) Bersama keluarga,
Bersama tetangga,
Bersama murid,
Bersama guru,
Menghadirkan zona kontemplasi yang menyadarkan arti peran, tanggung jawab dan kebersamaan

Alhamdulillah (masih); seperti yang dulu

Mendukung Bisnis Takoyaki Andi @H.Senen

(6) Bersama teman
Bersama sahabat; bersama mereka dan bersamanya
Menghadirkan zona kontemplasi yang mampu merevitalisasi kegalauan
Namun, ada kalanya
Tersentak dan terdiam
Oleh personifikasi dan metafora yang statis dan kurang kreatif
Membanding-bandingkan dan cenderung mengidentik-identikkan
Yah…mungkin logika indra penglihatannya yang menganalisa
Toh…logika hatinya sedang ditirai
Oleh anggapan akan keidealan personal dan kesempurnaan yang subjektif
Lagi-lagi zona kontemplasi hadir
Yang memberikan nutrisi pada jiwa
Untuk diam sejenak dan berkata dalam-dalam bahwa sejujurnya saya tidak sependapat dengan hal tersebut
Ajakan jiwa pun hadir untuk mengeliminasi kestatisan dan keakuan yang seringkali muncul
Manakala ada pancingan yang lain
Mohon maaf saja; jika secara tiba-tiba saya diam
Ini adalah bagian dari cara saya mengingatkan diri dan melihat (lagi) sekitar

(7) Dalam tiap latar waktu, tempat dan suasana
Zona kontemplasi mengantarkan pada esensi citra, cita dan cinta
Ketiganya adalah kekuatan dari dalam
Yang akan selalu memperbaharuu posisi dan lokasinya
Citra menghadirkan mitra
Cita menciptakan karya dan kata yang tersita
Cinta menggerakkan pinta pada Sang Maha Pembolak-balik hati
Karena senantiasa ada wajah Tuhan untuk orang-orang yang dicintai dan disayangi
Tak salah jika ada yang berargumen : karena aku mencintaimu, aku tak pernah lupa untuk  mendo’akanmu

(8) Ada begitu banyak cara mencari zona kontemplasi
Melalui pendekatan waktu, suasana dan tempat
Dengan kesunyian; karena kesunyian adalah keramaian dalam kata-kata
Dengan keramaian bersama teman, sahabat dan kerabat; karena kegalauan seringkali memanggil-manggil manakala sendirian
Dengan mendekati alam; karena pesan alam lebih cepat merambat ke dalam seseorang yang sedang menikmati kontemplasinya

(9) Kesunyian mampu menyapa nurani dengan ramah
Keramaian mengajak diri untuk lebih banyak diam, mendengarkan dan memperhatikan
Alam menyediakan rupa-rupa ilmu yang meresap ke dalam nurani dan semangat

(10) Fenomena agresif lalu hadir
Pembenaran diripun muncul tanpa ijin
Bahwa zona kontemplasi itu tertentu, terbatas serta terikat
Kalau demikian, persepsinya dinilai cukup statis dan dalam area fanatisme yang sempit
Lagi-lagi buku kebijaksanaan mesti dibuka lagi
Dan guru-guru kehidupan mesti didekati lagi
Untuk lebih memperlebar zona kontemplasi yang subjektif itu

11) Selalu muncul dalam diri pertanyaan atas esensi dan eksistensi diri yang sedang dilakoni
Seringkali diri tak bisa menjawab; dan skenario Sang Pencipta pun berjalan
Dengan menghadirkan sosok-sosok yang mampu menjawab kegalauan diri
Sehingga sampai pada sebuah renungan akan pernyataan :
“Yang jelas, apapun pertanyaannya, apapun jawabannya, siapapun yang bertanya, siapapun yang menjawab, ada sebuah gejala yang terus menerus berjalan”
Bagi saya gejala itu adalah gejala yang menggali definisi zona kontemplasi dalam sisi subjektif dan objektif
Tapi tidak menutup kemungkinan jika gejala itu bisa dimaknai yang lain oleh setiap orang
Bukankah logika dan kata-kata manusia bebas untuk memberikan judul ?

Aku terus melangkah, dan melangkah

12) Di titik manapun berada
Zona kontemplasi akan membawa kita pada kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan
Bukankah kesabaran, kearifan dan kebijaksanaan hanya bisa diajarkan oleh kegagalan dan tidak bisa diajarkan oleh keberhasilan manapun ?
Hidup serupa bawang merah, di luar kotor kecoklatan, tatkala dibuka jadi putih
Semakin dibuka semakin putih, tambah dibuka tambah putih
Dan tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh
Rabb, Yaa Nuur Yaa Rasyid; terangi langkah kami, bimbing kami dalam petunjuk-Mu yang lurus
Rabb, Yaa Mujib; perkenankan do’a-do’a kami dan beri kami tuntunan yang benar dan hikmah dalam menyampaikan permohonan kami
Rabb, kenapa saya mesti jauh-jauh mencarinya di atas gunung, sawah, sungai bahkan kampung halaman yang kadang “menjauh” dari saya
Padahal sebenarnya ia begitu dekat
Sering saya bawa-bawa dimanapun dan kapanpun saya berada
Ajarkan saya untuk memahami semua ini; meramahkan diri ke dalam diri dan memaafkan diri sendiri
Rabb, hanya dengan mengkontemplasikan keagunganMu hati menjadi tenang
Bukankah ketenangan hati menjadi zona inisiasi bagi proses kontemplasi diri.

Selamat Membuka Tahun yang Baru; Jakarta , 2-1-2012

Posted in Ismi | Leave a comment

Momentum Berubah, Bergerak Mengikuti Lini Masa

"Nyawah" ceria bersama stasiun cuaca

Judul ini hasil oleh-oleh dari Indramayu beberapa hari yang lalu, sambil menunggu hujan atau merespon hal-hal yang kurang berguna mending tangan saja yang bekerja, selamat menyimak dan silahkan dinikmati :

(1) Punya resolusi ?
Ada yang menjawab “IYA” dengan semangat
Ada juga yang “TIDAK” dengan malu-malu
Ada malah yang enggan berkomentar
Entah sebab apa
Semuanya punya pilihan atas respon tiap-tiap pertanyaan yang diajukan

(2) Bagaimana dengan Persepsi?
Hal subjektif itu
Bergerak mengikuti proses dan moment
Semakin dahsyat pergerkannya
Maka makin tajam dan sederhana persepsinya
Persepsi adalah awal perubahan, bukan begitu ?

(3) Lalu apa itu Impian ?
Adalah hal berani yang malu-malu
Karena bagi yang sudah terlanjur malu
Maka tak cukup berani mewujudkannya
Sedangkan yang sudah terlanjur berani
Pantang melihat ke belakang
Meski malu dan pesimis datang dan pergi tanpa diundang

(4) Kapan memulainya?
Ntar-kah?
Besokkah?
Tahun depan saja?
Jawaban ambivalensi tanpa esensi
Sudah seharusnya; terjawab sekarang, saat ini juga
Tanpa menunggu
Biarlah kita yang sekali-kali mendesak waktu
Dan bukan kita yang mengulur waktu

(5) Darimana titiknya?
Darimanapun dan dimanapun titik kita berada
Dengan bagaimanapun caranya
Dalam kompas yang jelas arahnya
Dengan naungan yang saling meneduhkan

(6) Resolusi; bukan sekedar bergerak mengikuti lini masa
Persepsi; tak sekedar ide pokok moment dan proses
Keduanya terbingkai dalam fondasi mimpi
Tidak untuk dimengerti
Tapi untuk dieksekusi
Melalui mikro perubahan
Yang sering kali tidak bisa dilihat dengan mata
Dengan hati-lah itu bisa dilihat
Yaitu hati yang sensitivitasnya menembus ruang imajinasi dan persepsi.

Haur Geulis-Indramayu, 28-12-2011  Ba’da : Maghrib.

Posted in Ismi | Leave a comment