Menyambut Hadirnya Sang Surya

Posted February 9, 2010 by IUR
Categories: I-Activity, I-UR

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah hari ini bisa bersepeda lagi ke rute favorit setelah seminggu belakangan bangun kesiangan terus. Selepas sholat shubuh berjemaah di Masjid Besar Al-Falah dilanjutkan dengan menyegarkan dan menyehatkan badan. Ya, apalalagi kalau bukan bersepeda. Demi mengejar dan menyambutnya terbitnya matahari di langit-langit sawah, maka saya pun buru-buru mengayuhkan sepeda, jika biasanya melewati jalan umum, maka demi ini saya melewati jalan pintas yang hanya memakan waktu 5 s.d 10 menit dari rumah. Dengan mengenakan kostum olah raga menyerupai setelan seragam anak SMP saya bersepeda menuju titik perhentian favorit, yaitu di jemabatan yang menghubungkan antara sawah-sawah dengan sawah yang lain. Kondisi jalanannya agak sedikit lembab karena kemarin wilayah kami diguyur hujan yang lumayan deras.

Saat sampai di titik itu,  sang surya masih belum menampakkan dirinya, masih tertutup oleh bayang-bayangnya. Karena itulah saya kayuhkan lagi sepeda ke titik-titik yang lain dengan sambil menikmati pemandangan alam yang subhanallah indah dan segarnya, terimakasih yaa Allah untuk nikmat di pagi hari ini. Melihat kembali ke arah timur, di sudut akan terbitnya sang matahari.

Berkah Alam, Berkah Kita Semua

Rupanya sang matahari akan terbit, maka mata ini tak henti-hentinya menyaksikan proses keluarnya sang surya dari peraduannya. Bak panggung pertunjukan yang tertutup oleh tirai-tirai indah pementasan yang dibelakangnya menyimpan taburan bintang-bintang pementasan yang akan memainkan perannya berdasarkan lakonnya. Begitulah yang saya lihat pagi ini, tirai-tirai alam itu membuka sedikit demi sedikit untuk memberitahukan bahwa sang surya akan hadir memberikan sinarnya ke seluruh jagat raya ini. Beberapa saat kemudian, para tirai alam itu pun tergulung dan tergantikan oleh hadirnya sang surya yang sinarnya siap membantu mahluk hidup memulai aktivitas. Para tumbuhan berhijau daun memulai fotosintesisnya, para muslim dengan dhuha-nya dan hewan-hewan bangun untuk menemani manusia dan tumbuhan beraktivitas. Sungguh, keseimbangan yang tak bisa diciptakan oleh manusia secanggih apa pun..”Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.

Sang Surya Pun Hadir

Setelah beberapa saat menikmati hadirnya, saya pun kembali lagi ke rumah dengan melewati jalan pintas. Di sepanjang sungai yang saya lewati, saya lihat banyak burung jalak terbang liar menyambut para kerbau hadir karena akan ada aktivitas yang bersifat simbiosis mutualisme antar mereka, burung jalak mendapatkan makanan dari kerbau berupa kutu-kutunya dan kerbau pun merasa untung karena kesediaan burung jalak membersihkan kutu-kutu yang menempel di badannya (adakah yang mau dijalakin atau dikerbauin?).

Dalam perjalanan menuju rumah, bertemu dengan Si Adeng yang lutuna (baca : lucu) bermain di depan rumah dengan kereta jalannya, saya pun berhenti sejenak untuk menyapa dan menggodanya.

Lutuna

Sesampai rumah, menyalakan tivi untuk meng-update pengetahuan seputar informasi terkini, saat ini informasi tersebut  membahas mengenai Century dan lika-likunya yang masih belum habis sampai dengan sekarang, penyalahgunaan facebook yang menghadirkan Nukman Lutfie dan pihak DEPKOMINFO, dan sedang menonton bedah editorial tentang “Akhir Century”. Selanjutnya adalah inspeksi di dapur dan beres-beres rumah.

Selamat pagi dan selamat memulai  aktivitas!

Dilema Dengan Soal Seputar Kue

Posted February 8, 2010 by IUR
Categories: I-Activity, I-Home Town, I-UR

Hari ini saya kedatangan murid baru lagi, dia seorang siswa kelas 3 SMP. SMPnya merupakan SMP almamater saya dulu sehingga mengobrol tentang guru-guru yang masih eksis di sana pun mengalir bagaikan air, bisa-bisa sampai harus kembali ke cerita masa lalu.

Karena beberapa hari dalam minggu ini, si siswa ini ada try out untuk persiapan Ujian Nasional (UN) makanya saya minta ke dia untuk mengerjakan soal-soal dari buku yang dia bawa untuk persiapan try out besok. Kebetulan besok adalah Bahasa Indonesia. Alhamdulillah memori tentang pelajaran ini masih tersimpan dan memberikan penjelasan pun sesuai dengan yang ada di kepala.

Tiba-tiba dalam soal try out  Bahasa Indonesia tersebut ada soal mengenai langkah-langkah membuat kue roti manis, spontan saja yang membaca berulang dan sambil berpikir-pikir merangkai logikanya. Benar-benar saya tidak tahu, pekerjaan yang berhubungan dengan ini adalah pekerjaan di rumah yang jarang jarang sekali saya sentuh, ke dapur hanya mengecek udah selesai apa belum soalnya dapurnya mau saya bersihkan. Jadi pas ada soalnya seperti ini saya lama berhenti di nomer ini dan mikir-mikir (berasa kayak soal hitungan saja, mending matematika deh yang pasti-pasti) kemudian saya bertanya sama sang siswa “ini udah kamu isi ya?”, sang siswa menjawab “udah mbak”, saya bertanya lagi “bener gak ya ini jawabannya tapi kayaknya siy bener, belum tau juga” (masih saya baca saja nomer itu). Gara-gara ada murid yang lain yang memanggil saya maka saya anggap jawaban itu sementara benar tapi masih saya pikirkan sampai sekarang (ckckckckckkckck…bener gak ya jawabannya? au ah bingunnnnnngggg). Semoga saya mendapatkan inspirasi dan menemukan jawabannya sehingga saya bisa menjawabnya dan merevisinya (orangnya lagi bertapa). Semoga juga murid-murid yang lain tidak mendapatkan pertanyaan mengenai hal ini karena jika pertanyaan ini jatuhnya ke anak-anak SD maka bombardir pertanyaan pun tidak akan selesai karena sepertinya mereka sering membantu ibunya di dapur.

Antara Warisan Dan Memang Jiwanya

Posted February 8, 2010 by IUR
Categories: I-Father, I-Home Town, I-Society&Community, I-UR

Bismillahirramanirrahim,

Klo males Bhlajar Nanti Bhhodhhoh ya!

Dari dulu sampai dengan sekarang, yang namanya mengajar dan “belajar” merupakan salah satu kegemeran saya. Entah kenapa? suka mungkin atau merupakan warisan dari Bapak saya yang memang banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Warisan ini mungkin diturunkan ke saya. Walaupun saya tidak pernah mengenyam pendidikan keguruan namun yang namanya naluri mengajar selalu ada dalam tiap nafas saya (agak lebay ya..maaf). Beberapa pembuktian dari hal ini adalah sebagai berikut :

- Atas dorongan Bapak tercinta, semasa SMA pernah membuka les kecil-kecilan untuk bidang studi Bahasa Inggris saja, jumlah muridnya kurang lebih 7 orang. Karena harus lanjut kuliah dan sudah tak banyak bermukim di Madura les-lesan ini pun tidak berlangsung lama. Namun, demikian karena prestasi bahasa Inggirs beberapa murid saya menonjol sehingga membuat orang tua beberapa tetangga dan saudara mempercayakannya kepada saya, apalagi beberapa teman dekat saya (padahal, bahasa inggris saya mah biasa-biasa saja, tak sehebat yang mereka pikirkan, itu karena muridnya aja yang cerdas-cerdas…Siapa dulu ya Bapak dan Ibunya). Jika saya nampak ada di rumah tak jarang selalu saja buku LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang nangkring di meja untuk diselesaikan, kadang saya ditungu, ada juga yang sekedar menitipkan untuk dikerjakan semuanya.

- Saat kakak tertua saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang seharusnya mengisi pengajaran ke anak-anak sekolah di suatu desa di Bangkalan adalah kakak saya, namun karena kakak saya tidak bisa dan beragam alasan lain sehingga dijemputlah pulang pergi dengan rute Desa tersebut-Rumah untuk mengajarkan bahasa Inggirs di sebuah Madrasah Tsanawiyah (dasar memang kakak saya ini, giliran nilainya dia yang dapet..gpp lah)

- Salah satu program kerja dalam suatu organisasi dan komunitas yang pernah saya ikuti di kampus  tercinta saya di Jakarta saya memasukkan acara pengajaran komputer dan pengenalan perangkat internal komputer ke sekolah. Di sana, kami mengajar pengenalan komputer dari awal, pada saat itu banyak siswa SMU yang belum mengenal komputer, dengan acara itu kami memberikan pengenalan dan pelatihan komputer secara gratis kepada mereka (terimakasih wahai teman-teman fakultas ku, merindukan masa-masa membuat acara bersama kalian lagi). Selain  itu, bersama dengan teman-teman sejurusan menggagas acara road show ke beberapa SMU dengan memberikan pengenalan sekilas mengenai jurusan kami dan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan penggunaan software untuk elektronika dan rangkaian listrik dengan dibantu oleh para asisten laboratorium yang saat itu sedang dipegang oleh beberapa teman seangkatan.

- Menjadi pengisi responsi untuk suatu mata kuliah dengan pesertanya adalah mahasiswa junior (lah ini yang aneh, saya yang bikin program ini, malah saya yang jadi tumbalnya, jangan ulangi lg temans!)

- Menjadi guru “panggilan” dan “cabutan” saat-saat UTS dan UAS menjelang. Target yang diajar adalah teman seangkatan yang sering bolos atau yang tidak pernah mencatat di kelas. Nah, giliran ujian pusing jadinya. Kadang kurang ajar juga mereka, sudah saya buatkan responsi H-1 (responsi spesial buat teman-teman seangkatan yang membuat ruangan HMJ di kampus jadi penuh tiba-tiba gara2 belajar cepet dan sambil mencari kisi-kisi) eh malah di dalam ruangan tidak mencatat dan hanya bercanda, giliran malamnya saya yang diminta untuk menjelaskan lagi dan mengajarkan apa yang kira-kira menjadi kisi-kisi.

- Sesekali ikut Bulek atau sepupu saya mengajar di sekolah, jadi Bulek bisa santai di sekolahnya dan nanti saya yang mengajar.

- Detik-detk kembalinya saya ke Madura dari Jakarta, alhamdulillah terelisasi juga impian saya untuk mengajar anak-anak kecil/jalanan di Jakarta. Bertempat di sebuah taman bermain di daerah green field Jakarta Barat saya bersama salah satu mantan anak kosan sepakat memberikan pelajaran sekolah kepada mereka. Seru dan menyenangkan bisa bermain dengan mereka. Namun sayang, hanya beberapa pertemuan saja karena saya harus mudik ke Madura (maaf ya adek-adek saya belum pamitan  semoga suatu hari nanti bisa bertemu kembali dengan mereka…makanyajangan gede dulu ya Dek).

- Ponakan saya (Shabrina, red) jika bertemu dengan saya yang dikeluarkan selalu buku, buku dan buku. Pagi pagi saja baru bangun tidur dan saya masih selimutan mengajak saya mewarnai, menanggapi hal ini saya hanya merespon “ya!, kasi aja warna ini itu”. Kadang suka tidak perduli waktu dan tempat (namanya juga anak kecil ya?, kgk usah masukin hati, belum tau apa2, yang penting dijawab aja), selesai saya dari kamar mandi tiba-tiba mengajak saya untuk belajar menulis dan menanyakan ke saya jika huruf atau angka ini gimana (whew aja deh, emang aku muka guru apa).

- Saya bermain ke salah satu sahabat saya, saat enak-enaknya duduk dan mengobrol bersama teman muncullah salah seorang keponakannya bersama kakaknya, tiba-tiba si kakak bilang “sana dek belajar bahasa inggis sama tante Iis” (lagi…lagi bahasa Inggris). Sang Ibu pun menjelaskan kepada saya sudah sampai dimana perkembangan anaknya di sekolah TK-nya dan dia menginginkan anaknya bisa berbahasa inggris, saya pun mendengarkan cerita sang Ibu itu dan kemudian menanyakan kepada anaknya mengenai bahasa Inggris yang sudah dipelajari (sudah berasa konsultan pendidikan aja). Tidak hanya Ibu ini saja, beberapa Ibu yang lain pun curhat masalah pendidikan dan kemampuan anaknya di sekolah, mulai dari yang malas belajar, senangnya nonton tivi, di sekolah kadang gak bisa, jika ujian tiba-tiba tidak bisa menjawab padahal malamnya bisa, sukanya main, dan lain-lain (panjang klo saya ceritakan semua). Mendengar demikian, saya merespon “ya udah bawa aja ke rumah klo malem, sekalian belajar bareng yang lain juga” (lumayan juga kan rumah saya bisa rame dengan suara-suara mereka).

- Setelah beberapa hari tinggal di Madura, beberapa sepupu dan tetangga saya ajak untuk belajar bahasa inggris di rumah, dan mereka merespon positif sehingga selesai maghrib datang ke rumah untuk belajar, tidak hanya bahasa Inggirs saja namun mata pelajaran yang lain pun mereka sertakan untuk dipelajari. Semakin hari, teman-teman yang mereka ajak semakin banyak dan ada saja yang mereka rekrut padahal saya tidak memberikan pengumuman. Dari yang tadinya hanya 3 orang, sampai sekarang menjadi hampir 20an orang (ayo nanti siapa lagi yang dibawa, gak perlu marketing anak2 kecil sudah cukup menjadi marketing yang potensial karna jam terbang bermainnya yang padat).

Sore Maen, Malem Maen lg..ooops Blajar maksudnya

- Dll

Mengapa saya suka mengajar?, banyak hal yang bisa saya dapat dengan ini karena dimanapun dan dengan siapa pun kita hal itu merupakan sekolah dan guru kita. Kadang-kadang, alasan-alasan itu tidak bisa diungkap dengan bahasa yang konkret. Hanya bahasa jiwa yang mampu menafsirkannya. Kepuasan tersendiri itu salah satunya. Merasa bahagia jika sudah memberi apa yang kita punya ke orang lain. Ketika kita memiliki ilmu dan kemudian kita bagi ke orang lain maka Allah akan memberikan ilmu-ilmu yang lain yang tidak kita ketahui dan kita sangka. Ilmu yang bermanfaat itu ibarat air sungai yang mengalir, saya ingin menjadi air yang mengalir itu yang bisa terus-menerus menyuburkan tanaman dan menghidupkan sekitarnya. Kalau kata Bapak saya “saya tidak bisa memberikan banyak harta kepada anak-anak saya kecuali ilmu, maka manfaatkan ilmu itu dengan sebaik-baiknya”.

Mengajar itu gampang, tapi mendidik dalam sisi pengajaran kita itu yang lebih sulit. Seorang pengajar belum tentu bisa menjadi pendidik yang baik bagi para murid-muridnya, namun seorang pendidik sudah pasti tahu mengenai pesan tersirat apa yang harus dia sampaikan kepada anak didiknya. Mengajar itu ada batasan waktunya, namun mendidik tak lekang oleh waktu karena senantiasa diingat oleh anak didiknya. Bagaimana mengajar dan mendidik yang baik itu yang ingin selalu saya pelajari. Bapak saya bisa, kenapa saya tidak berani mencobanya?, Yaa ‘Ilmu…karuniakanlah ilmu yang bermanfaat kepadaku yang senantiasa bisa membimbing aku dan memberikan manfaat kepada orang lain, dan jangan jadikan ilmu itu sebagai pakaian kebesaranku, namun sebagai pengingat dan rasa syukurku kepada Engkau wahai Rabb….amin.

Proses dan Perjalanan Panjang Sebuah KOMITMEN

Posted February 4, 2010 by IUR
Categories: I-Idea&Imagination, I-Society&Community

Where's the COMMITMENT?

INTRO :

Alhamdulillah untuk hari ini Yaa Allah, Engkau tlah anugerahkan pertemuan dengan seorang penjual sate SD-ku dan atas permintaanku beliau bersedia untuk menyediakan sate daging yang aku pesan saat itu juga. Sambil menunggu menunggu sate masak, masuk ke dalam pasar untuk membeli alpukat, harga jualnya adalah 6 ribu rupaih, setelah ditawar dan dinyatakan bahwa kemarin sudah membeli dengan harga 5 ribu rupiah sang penjual pun dengan ramah melepaskan alpukatnya. Satu kilo berisi 5 buah alpukat dan baru saya makan 1 buah.  Setelah membeli alpukat, sate belum juga masak karena ternyata sang penjual satenya baru membeli dagingnya ke dalam pasar, saya pun minta ijin untuk membeli sesuatu yang lain, yaitu cendol, lalu kembali lagi ke tukang sate, ternyata belum juga masak saya pun berbincang santai dengan sang penjual dengan menanyakan beberapa hal yang tidak lain terkait dengan eksistensi beliau di SDN Burneh 1, masihkan beliau berjualan di sana?, sambil berbincang dengan beliau berbincang juga dengan pembeli yang lain yang kebetulan juga membawa anak kecil, lumayan bisa berkomunikasi dengan orang lain yang belum dikenal, melihat suami seorang tetangga yang membawa kerupuk saya pun tertarik untuk membeli kerupuk, mintalah ijin lagi saya ke sang penjual sate untuk membeli kerupuk, satu kerupuk harganya gopek (baca : 500 rupiah), tadinya hanya mau membeli 3 buah saja, atas permintaan penjual untuk beli 2000 supaya dapatnya 5 buah saya pun mengiyakannya. Selesai dari pasar Baru Burneh kembali lagi ke rumah melihat halaman depan rumah terlihat kotor, tidak biasanya seperti itu, mungkin Ummi kecapekan tadi pagi setelah mencuci banyak di belakang sehingga di depan terlupakan.  Dalam hati pun berjanji setelah makan ini semua saya akan menyapu halaman depan rumah. Selesai makan dan menyapu depan rumah kemudian menyapu teras dan beberapa bagian dalam rumah, setelah selesai baru mencuci piring yang sudah dipakai untuk makan tadi. Ummi pergi, jadilah sendirian di rumah, ke belakang untuk mengambil handuk karena akan mandi, melihat cucian yang dijemur banyak terpikir “kasian juga Ummi ini, pasti capek, udah gitu puasa lagi hari ini, yang tua aja bisa seaktif ini…kenapa yang muda kalah”. Terbesit lagi setelah mandi saya akan menyetrika pakaian-pakaian yang sudah dicuci kemarin supaya Ummi tidak banyak yang dikerjain, saya pun melihat kardus yang berisi pakaian kering yang sudah dicuci dan saya pun masukkan ke dalam supaya bisa saya kerjakan setelah selesai mandi. Menjelang dzuhur saya pun selesai mandi, setelahnya mempersiapkan untuk menyetrika dengan memisahkan beberapa pakaian : pakaian saya, pakaian Shabrina ponakan saya dan pakaian saya sendiri. Saya setrika dulu pakaian Ibu saya kemudian ponakan dan yang terakhir baru yang saya punya. Selesai menyetrika Ibu datang dan saya meletakkan pakaian beliau di kursi dekat lemari yang biasa beliau gunakan untuk meletakkan pakaian-pakaiannya, saya kelaparan lagi saya pun membuat segelas jus alpukat sambil diiringi alunan musik yang diputar di radio Prambors Surabaya dengan duduk santai depan kamar menikmati semilir angin siang yang sudah lama tidak saya nikmati (Nikmatnya, terimakasih wahai Sang Pencipta Angin ini).

Alhamdulillah Sarapan Pagi Sekaligus Siang Hari Ini

Jus Manual Alpukat...What a delicious

Beberapa saat setelah itu saya ber-Internet ria dan kemudian tidur siang dan baru bangun menjelang maghrib karena hari ini belajar baca Qurannya libur disebabkan saya sedang berhalangan shalat. Bangun tidur kuterus mandi dan makan malam. Saat makan terdengar suara teriakan anak kecil memanggil nama saya “Mbak IIS (diringi bunyi suara pagar yang terdengar berisik)” saya pun mendekat keluar dan dari dalam kamar saya mengatakan “Tunggu dulu, masih makan”.

Hari ini tidak banyak yang datang, tapi ada penambahan lagi satu orang (selalu begitu, ada saja yang diajak para anak kecil ini, tanpa marketing pun ini sudah berjalan sendiri). Kelas 2 belajar IPS, kelas 4 belajar MATEMATIKA dan kelas 5 belajar BAHASA INGGRIS, saya belajar bagaimana belajar berkomunikasi dan mendengarkan cerita-cerita mereka yang saling berebutan satu sama lain untuk didengarkan (sesi ini panjang ceritanya jika saya harus ceritakan dalam judul ini)

Sebagian dari Sahabat Kecilku

Sekitar jam 8-an lewat mereka semua pulang ke rumah masing-masing dan saya pun masuk kamar dengan terlebih dahulu menggembok pagar luar. Selanjutnya menonton dan ber-Internet ria. Sambil mencet-mencet remote di metroTv ada acara gebyar BCA yang didalamnya menampilkan seorang tokoh pendidikan anak usia dini yang juga seorang entepreneur di bidang yang sama juga. Wanita yang terlihat muda ini mengatakan bahwa “Dunianya anak  kecil berbeda dengan dunia kita orang dewasa, 1 jam bagi mereka sama dengan 4 jam-nya kita” (dipikir-pikir memang benar, para sahabat kecil saya itu jika belajar sudah sejam lamanya inginnya cepat-cepat selesai dan main, never mind lah yang penting waktu mereka untuk nonton sinetron berkurang supaya otak dan gaya hidupnya tidak terpengaruh sinetron, tapi jika diajak berdiskusi dan bercerita mereka senangnya bukan main apalagi bercerita masalah sekolah mereka…bisa-bisa tidak belajar-belajar jika dipancing terus, ada saatnya harus dipotong supaya kembali lagi belajar pelajaran yang menjadi permintaan mereka).

ISI :

Apa sebenarnya korelasi antara judul yang saya kemukakan diatas dengan intro yang saya paparkan yang menurut pembaca sekalian terlihat penting tidak penting?. Baiklah jika demikian, mari kita coba cari benang merahnya.

Berbicara tentang komitmen, tentunya banyak segmen dan dimensinya. Setiap manusia pun punya ini, kita tidak akan pernah tahu seberapa penting komitmen itu jika kita belum pernah menjalankan dan melakoni. Komitmen itu tidak perlu kita cari di atas gunung tinggi yang tinggi , di balik hutan belukar yang penuh dengan onak dan duri, di indahnya taman yang menghijau dan menguning, atau juga di derasnya air sungai yang mengalir. Komitmen adalah sebuah proses perjalanan hidup manusia dengan tanpa meminta sekalipun ia akan datang dengan sendirinya dan meminta kesediaan serta keiklasan kita untuk membantu menjalankan dan melakoni. Komitmen juga bukan sekedar PERNYATAAN hidup yang terangkai dalam selembar kertas atau dalam bait-bait indah tulisan tangan dan rangkaian hati sang jiwa. Komitmen adalah sebuah PEMBUKTIAN yang mengekspresikan bahwa kita mampu dan menerima lakon serta peran itu.

Komitmen seorang Ibu adalah memastikan segala sesuatu berjalan OK di rumah (terimakasih Ummi yang senantiasa menyediakan sarapan dan makanan di rumah), komitmen seorang anak adalah patuh terhadap orang  tua, komitmen seorang murid adalah belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah, komitmen seorang pedagang adalah bagaimana memberikan kepuasan yang baik terhadap pelanggannya, komitmen kita sebagai manusia adalah bagaimana menjadi pemimpin yang baik di muka bumi ini (hal ini seeperti yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW). Komitmen sebagai apa lagi? maka jalankanlah dengan baik sesuai dengan porsi dan kebutuhannya, toh semuanya butuh proses dan pembelajaran.

Dalam mengapplikasikan komitmen itu dibutuhkan sebuah pengorbanan, kesadaran serta penyadaran diri. Kenapa? karena komitmen itu sifatnya dua arah, bukan sekedar ego sentris yang berperan di situ. Tak dapat dipungkiri memang sisi idealisme kita berpengaruh dalam penerapan komitmen itu. Bagaimana mengeliminasi sisi idealisme tingkat tinggi agar komitmen  itu berjalan secara benar dan sesuai dengan batasnya? seperti sudah dikatakan dalam paragraf tulisan ini bahwa dibutuhkan komunikasi 2 arah sehingga pihak-pihak yang terlibat dalam komitmen itu bisa saling mengirim dan menerima satu sama lain. Jika salah satu pihak belum bisa mengirim atau menerima dengan mungkin ada suatu kendala yang harus segera diperbaiki atau dalam bahasa komputernya di-TROUBLESHOOT.

Secara sadar atau tidak, kita sendiri pun terjebak dalam komitmen-komitmen yang kita bikin baik secara verbal ataupun non verbal. Ya itulah hidup, tanpa komitmen mungkin kita akan kehilangan arah, entah kemana arahnya kita pun tidak tahu. Maka dari itu, janganlah sok membuat atau mencari komitmen jika link-link komunikasi yang terbentuk belum bisa dipastikan 100% establish (maaf, saya banyak menggunakan bahasa komputer), jalankan komitmen yang ada sekarang dengan sebaik-baiknya, toh seiring dengan berjalan waktunya akan hadir komitmen-komitmen yang lain yang harus kita sikapi dengan cara WAJAR dan BIJAKSANA, tidak usah terlalu berlebihan, jalani sebisanya. Semuanya butuh proses dan pembelajaran. Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini, kesempurnaan hanyalah milik sang Maha Pencipta. Begitupula dengan komitmen, pada saat menjalankannya pun kita tidak serta merta langsung sempurna, pasti banyak kesalahan dan kealpaan yang kita buat denga komitmen saat itu, tapi bagaimana memperbaiki komitmen setelah itu dengan memberikan yang terbaik dan introspeksi diri itulah bagian dari perjalanan panjang sebuah komitmen.

Kenapa saya tiba-tiba membuat tulisan ini? Jawabanyya adalah saya juga tidak tahu, semuanya berjalan atas permintaan, saya hanya mengikuti ketukan jari, pemikiran serta hati saya saja. Semoga dengan tulisan ini makin menambah proses pendewasaan saya serta memperbaiki komitmen-komitmen yang selama ini banyak saya langgar sendiri. Saya hanya manusia biasa, tempatnya salah dan dosa, tapi dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya miliki ijinkan saya untuk berintrospeksi diri dan melihat ke luar dengan meyakinkan diri bahwa saya harus bisa lebih baik dari kemarin.

PENUTUP :

Tidak ada kebenaran universal yang mengandung unsur egoisme (Oleh : Isai Chih Chung – penulis “Sayings of Buddha”)

Kita di sini bukan untuk saling bersaing, kita di sini untuk saling melengkapi (Bill Mc.Cartney)

Notulensi Pengajian Minggu Ini

Posted February 3, 2010 by IUR
Categories: I-Activity, I-Home Town, I-Spiritual

Bismillahirrahmanirrahim,

Yaa Allah, berikanlah keberkahan untuk tulisan ini dengan menjadikan yang menulis, yang menginspirasi serta membaca tulisan ini senantiasa mendapatkan hidayat dan rahmatMu

Yaa ‘Ilmu, karuniakanlah ilmuMu dalam tulisan ini sehingga yang menulis dan membacanya senantiasa berada di jalurMu

Setiap hari Rabu Malam Kamis selepas sholat Isya’ Masjid besar Al-Falah Burneh mengadakan pengajian rutin yang dibawakan oleh Ust.Zainal. Hari ini adalah hari pertama saya mengikuti pengajian ini sejak kedatangan dan kepindahan saya dari Jakarta. Terimakasih yaa Allah sudah mengizinkan hati, jiwa dan raga ini hadir di majelisMu, karuniakanlah keistiqomahan bagi hambaMu ini, juga bagi keluargaku juga….Amin yaa Rabb.

Ust.Zainal on Masjid Besar Al-Falah

Dengan mengambil tempat tepat di pertengahan di dalam masjid Besar Al-Falah Burneh sang Ustadz dan beberapa jamaah yang didominansi oleh wanita (khususnya ibu-ibu) dan hanya 3 orang laki-laki (termasuk ustadznya) taushiyah pun dimulai dengan dibuka terlebih dahulu oleh seorang wanita yang beliau adalah salah satu guru saya di SMUN 1 Bangkalan dulu. Alhamdulillah, kehadiran saya tidak terlambat, saya melewati pintu belakang masjid karena ini merupakan pintu yang pertama kali saya temui saat akan memasuki masjid ini. Beberapa dari jamaah ada yang berbisik-bisik dan bertanya-tanya “siapa itu?”, karena itu hanya pertanyaan bisikan dan tidak ditujukan kepada saya langsung saja saya duduk dan mengambil posisis di samping seorang ibu sekaligus nenek yang kebetulan juga adalah sepupu Ibu saya. Pertanyaan bisik-bisik itu terjawab juga oleh jamaah yang lain dengan mengatakan “putrinya Ibu X (anggaplah demikian namanya/julukannya)” . Tidak beberapa lama duduk acara pengajian pun dibuka dan kemudian dilanjutkan dengan pemberian taushiyah oleh sang Ustadz. Dengan bermodalkan satu buah bolpen dan notulen mungil berwarna biru yang secara sengaja saya bawa dari rumah saya pun mulai mencatat isi dari pengajian ini, walaupun tidak seluruh isi taushiyahnya saya catat.

Center Room Of Masjid Al-Falah

Berikut ini adalah catatan yang sudah saya tuliskan ke dalam notes itu :

-> Cinta Perlu Sebuah Pengorbanan

–> Jika kita cinta pada sesuatukita harus rela berkorban, rela menjadi abdi (pembatu, dll)

–> Jika cinta kepada Allah maka harus mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan Allah

* Jadi teringat akan hijrahnya saya dari Jakarta ke Madura, mungkin ini bentuk cinta saya sama keluarga saya setelah saya dapatkan beberapa peringatan dan petunjuk Allah. InsyaAllah saya tidak menyesal dengan keputusan hijrah ini, karena jika tidak begini…apalagi yang bisa saya berikan pada keluarga saya, khususnya Ibu saya. Materi yang banyak masih belum sanggup saya persembahkan bagi Ibu dan keluarga saya. Iya ini, hanyalah kehadiran yang bisa saya berikan walaupun sebenarnya banyak cita-cita, harapan dan kesempatan yang ingin saya raih di Jakarta, namun…kecintaan dan kesuksesan itu tidak semata-mata bisa diukur dengan materi. Saat ini, demi keluarga saya tercinta ini yang bisa saya berikan, semoga Allah menambah kenikmatan bagi saya sehingga saya bisa memperbanyak dan memperbaiki bakti saya terhadap Ibu dan keluarga saya. ” Yaa Allah, tolong bimbing Aku bagaimana berbakti yang baik terhadap Ibu dan saudara-saudaraku, karuniakanlah hidayahMu kepada kami semua”. Semoga dengan ini, insyaAllah saya mampu meraih apa yang saya cita-citakan dan harapkan…bisa dekat dengan keluarga juga semakin dekat dengan kesuksesan…Amin yaa Rabb.

-> Mengenai Ketenangan Hidup

–> Kenapa manusia dalam hidupnya kerap TIDAK TENANG? Gelisah, pusing, putus asa, takut dll (mungkin ini juga yang sering saya rasakan). Jawabannya adalah karena kita belum mampu mencintai Allah dan Rosulnya di atas segalanya. Sambil mendengarkan lagu Opick-Maha Melihat dikatakan bahwa “yang dicinta kan pergi, yang didamba kan hilang”. Memang benar, sering kita terkontaminasi dengan keduniaan yang sesaat, terlalu cintanya kita kepada dunia sampai sering meremehkan akhirat..Astaghfirullah “Wahai Engkau yang membolak-balikkan hati manusia tetapkanlah hati ini untuk senantiasa taat kepadaMu, terus belajar mencintaiMu dan memperbaiki cinta ini “, “Wahai Engkau yang menjadikan iman ini naik dan turun, tetapkanlah iman ini untuk senantiasa berada di garisMu, ingatkanlah ketika lupa dan maafkanlah ketika berbuat dosa baik yang disengaja maupun tidak”.

-> Dengan mengutip lagu Ilir-Ilir

Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo…

Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Tanaman-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan
Jahitlah benahilah untuk menghadap nanti sore
Selagi sedang terang rembulannya
Selagi sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…

Maksudnya:
Makin subur dan tersiarlah agama Islam yang disiarkan oleh para aulia dan mubaligh.
Hijau adalah warna dan lambang agama Islam. Dikira pengantin baru, maksudnya, agama Islam begitu menarik dan kemunculannya yang baru diibaratkan bagaikan pengantin baru.
Cah angon atau penggembala, diibaratkan dengan penguasa yang ‘menggembalakan’ rakyat. Para penguasa itu disarankan untuk segera masuk agama Islam (disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi lima sebagai lambang rukun Islam).
Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah agar dapat masuk Islam demi mensucikan dodot (Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi orang Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan).
Pakaianmu, (yaitu) agamamu sudah rusak, karena dicampur dengan kepercayaan animisme / klenik.
Agama yang sudah rusak itu jahitlah (perbaiki), sebagai bekal menghadap Tuhan.
Selagi masih hidup masih ada kesempatan bertobat.
Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan.

Kata sang Ustadz : hiduplah seperti pengantin baru (Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar) yang senantiasa bahagia karena ada yang menemani. Begitu juga kita, yang menemani adalah Allah SWT.

-> Selalu Al-Fatihah

–> Kenapa Al-Fatihah sering digunakan untuk berdo’a? karena merupakan Ummul Quran. Jika Al-Fatihah itu besarannya, maka jika tidak hafal Al-Fatihah maka berdo’alah/bacalah Basmalah.

-> Cara Menyuburkan Pengajian

–> Masih merujuk pada lagu lir ilir diatas (penasaran ! saya pun sambil mencari dan mendownload lagunya). Orang Islam seperti orang mengembara (Cah Angon Cah Angon), oleh karena itulah kerjakanlah rukun Islam yang 5 : Syahadat, Sholat (khususnya sholat yang fardhu), Zakat (baik fitrah maupun maal), puasa dan haji.

-> Kendala-kendala Kenapa Do’a Belum Juga Diijabah :

–> Mungkin kepatuhan dan penghormatan terhadap orang tua kurang. Apalah gunanya intelektualitas tinggi atau rajin beribadah tapi tidak hormat terhadap orang tua. Patuhi kedua orang tua!. Masa depan anak berada di bawah telapak kaki Ibu!. Ridho Allah ada pada Ridhonya orang tua, Murka Allah ada pada Murkanya orang tua (klo kata senior saya dulu “itu klo belum nikah, klo udah ntar beda lagi”…huuhuhuhuhuuhuh, gitu ya senior?, bagaimana dengan Ustadz Zainal?)

–> Cara menghormati orang tua (jika salah satunya meninggal)? : silaturrahimlah dengan teman beliau yang masih hidup dengan bermain atau memberikan hadiah kepada mereka.

–> Contoh-contoh kasus yang terdapat dalam kitab mengenai bakti anak terhadap orang tua : Kisah Al Qomah yang ketika akan meninggal susah bernazak karena Ibunya belum memaafkan dosanya yang telah menyakiti Ibunya secara mendalam, namun setelah Ibunya memaafkannya ia pun bisa bernazak dan akhirnya meninggal. Kisah dari Abi Huroirah yang dilarang oleh Ibunya mengikuti pengajian Rosulullah sampai-sampai Ibunya mogok makan jika ia tetap mengikuti pengajian itu, Abi Huroirah menceritakan hal ini kepada Rosulullah dan ia terus menghormati Ibunya dengan tetap mengikuti pengajian itu, sampai akhirnya sang Ibu masuk islam. Betapa indahnya ajaran islam mengenai penghormatan terhadap orang tua sampai orang tua yang berbeda agamapun harus tetap dihormati. “Yaa Kholiq, karuniakanlah hidayah dan kesabaran kepada kami untuk terus memperbaiki bakti kami kepad orang tua kami, jangan Engkau jadikan kami seperi Al Qomah, semoga kami bisa meneladani Abi Huroirah dalam bakti kami”

-> Seorang Wanita (yang sudah menikah khususnya)

–> Karena hampir jamaahnya Ibu-ibu makanya hal yang seperti ini sering diangkat-angkat, bagi saya yang masih ABG alias Aku Belum Gitu (baca : belum nikah) lumayan juga untuk dijadikan bekal dan pengetahuan. Seorang wanita itu :

1. Apabila dipandang suaminya menyenangkan

Hal ini dipergunakan untuk berbagai aktivitas, tidak hanya sekedar masalah penampilan dan tata rias. Misalnya : kerapian rumah, ketersediaan makanan di rumah dan lain-lain (yang sudah menikah pasti sudah di luar kepala mengenai hal ini).

2. Jika diperintah suaminya taat (sepanjang tidak maksiat kepada Allah)

Untuk hal ini suami harus BIJAKSANA dan TIDAK OTORITER

3. Jika suami tidak ada, bisa menjaga diri dan harta benda

Untuk hal ini disesuaikan juga dengan tradisi dan lagi lagi HARUS BIJAKSANA!.

Sekian, Semoga bermanfaat.

@ Masjid Besar Al-Falah Burneh-03022010

Telepati Seorang Ibu

Posted February 2, 2010 by IUR
Categories: I-Family

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Sore menjelang maghrib Ibu keluar rumah sebentar untuk membayar uang pulsa ke rumah sepupu saya, seperti biasa pesan beliau adalah “hati-hati pintunya Is”. Dengan singkat saya mengatakan “Ya”.

Setelah selesai mandi, sambil mendengarkan radio dan menikmati pemandangan depan rumah yang adem, sejuk dan mendung namun enggan untuk hujan (Alhamdulillah atas nikmat ini Yaa Rabb), saya pun mengalihkan kesibukan ke depan komputer sehingga radio saya matikan dan playlist player pun adalah playlist favorit saya yang tersimpan di hardisk internal notebook.

Mendengar qiroah di Masjid dekat rumah yang berisi tilawah Quran dan ajakan untuk siap-siap sholat maghrib saya pun mengecilkan suara speaker melalui notebook saya supaya suara yang dominan adalah suara qiroah di Masjid. Adzan maghrib pun berkumandang, dan Ibu saya baru sampai rumah dan seperti biasanya menyalakan lampu, menutup gorden rumah, menutup pintu dan kemudian ke belakang untuk bergegas bersuci menunaikan sholat maghrib.

Seusai mandi tadi, saya melihat ada beberapa asesories di tempat cucian piring saya pun mencuci dulu kemudian meletakkan handuk di belakang dilanjutkan masuk kamar (satu arah jalurnya). Seusai mencuci piring tadi saat melewati jalur dapur ke belakang saya melihat seonggok pisang yang masih mentah. Dalam hati pun berkata “enak niy klo direbus”, tapi ya sudahlah hanya sekedar pernyataan hati.

Karena banyak nyamuk di kamar, saya semprot dulu dengan pembasmi serangga dengan merek X dan syukurlah serangga-serangga itu pingsan tak berdaya. Mengingat baunya yang kurang bersahabat dengan hidung, saya keluar kamar sebentar menuju tempat nongkrongnya Ibu dengan menyalakan tivi, saya lihat tayangannya sinetron semua, secara random nomor yang ada di remote saya tekan, entah!!! apa yang saya tonton yang penting yang tidak ada iklannya saja. Setelah beberapa saat nonton, karena Ibu sudah mau sholat maghrib saya masuk kamar lagi. Melihat banyak serangga yang terkapar di kamar, saya sapu dulu kamar supaya lebih bersih bersinar. Setelah itu menyalakan AC di dalam kamar supaya adem dan betah di dalamnya.

// Bentar lagi adzan Isya’, dengarkan dulu dan berdo’a setelahnya //

Setelah beberapa saat nongkrong lagi di depan komputer, saya ke dapur untuk melakukan inspeksi dan mengambil tempat minum idola (satu-satunya yang dimiliki dan belum juga rusak). Kemudian masuk lagi ke kamar dan melanjutkan berselancar dan mendengarkan lagu.

Tiba-tiba Ibu masuk kamar dan menanyakan “rebus pisang ya?”, saya langsung jawab “ya”. Saya ke dapur lagi (entah ini ngapain lagi) dan saya lihat pisang sedang direbus, saat itu pula Ibu mengatakan “tape gorengnya disimpen di dalam kulkas” (dalam hati, tau aja klo saya ke dapur lg ngelirak-lirik makanan yang semalem kok gak ada ya…kemanakah gerangan, ternyata itu jawabannya).

Setelah pisang masak, Ibu mengantarkan sepiring pisang rebus ke kamar yang berisi 3 biji dengan didampingi satu buah garpu. Ibu yang baik yang selalu mengerti anaknya sampai garpu pun disediakan, khawatir anaknya ini kepanasan menyantap pisang rebus yang barusaja diangkat dari kompor. Saya pun mengatakan “Terimakasih”.

-Persembahan khusus hari ini untuk Ibu tercinta-

“Pisangnya enak, garpunya pun kepake soalnya pisangnya masih panas, Aku suka pisang ini Ummi!”

Boiled Bananas, Like This

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tetap Lanjutkan & Terus Perbaiki Diri

Posted February 1, 2010 by IUR
Categories: I-Family, I-Heart to Heart

Bismillahirrahmanirrahim,

Tulisan ini merupakan buah dari mendengar lagu Opick feat Amanda yang berjudul Maha Melihat. Dalam liriknya termuat “hidup kan terus berjalan meski penuh dengan tangisan”. Sambil menonton televisi, berselancar dan melihat kelakuan ponakan saya dalam tidurnya saya langsung ingat dengan pengakuan sekaligus curhatan seorang sahabat saya beberapa hari yang lalu di kediamannya yang tak jauh jaraknya dari rumah saya.

Dia : Tadi aku abis dari Surabaya

Saya : Loh, bukannya kata si Ana (bukan nama aslinya) kamu masuk kantor hari ini, tadinya aku mo mampir ke kantormu coz tadi aku jg ke Bangkalan ke Bank ngurus ATM-ku yang keblokir sekalian belanja utk kebutuhan di rumah, si Ana juga gitu dia beli susu anaknya

Dia : Aku cepet kok pulang pergi

Dengan singkat dan banyak menyimpan cerita dari raut wajahnya terlihat banyak yang ingin dia ceritakan. Saya bisa membacanya, betapa tidak, sejak SD kelas 6 saya berteman dan bersahabat dengan dia sampai dengan sekarang. Telepati antara kami sudah teruntai satu sama lain walaupun jarak dan perjalanan hidup yang berbeda, namun selalu mengalir dan berbagi bersama dia. Terimakasih yaa Allah untuk nikmat pertemenan dan persahabatan yang telah Engkau anugerahkan ini, karuniakanlah kepada kami kekuatan untuk menjaganya.

Saya : Berati abis pulang kantor dunk ke sananya

Dia : Aku gak masuk hari ini

Saya : Kenapa gitu?, kamu sakit? gak enak badan?

Dia : Aku habis dari PHC (PHC adalah salah satu rumah sakit di Surabaya yang berlokasi di dekat pelabuhan Ujung, Surabaya)

Ckckckckkckckc, sambil berpikir mungkin ada yang dijenguk atau mungkin selaras dengan curhatan si Ana tadi (Ana selain sahabat kami, juga sepupu sahabat saya yang ini) sehabis belanja siang tadi di kediamannya mengenai masalah sang sepupu. Namun, saya tidak melanjutkan pertanyaan saya karena takut salah menempatkan pertanyaan dan pernyataan. Saya hanya berkata “Ooooo”. Sambil mengalihkan perhatian saya bertanya “mana ya kok yang lain belum pada datang?”. Kami pun terdiam sejenak. Jika sudah sama-sama diamnya, sahabat saya ini pasti tahu jika saya sedang tidak ada bahan/topik yang akan ditanyakan, dengan situasi ini dia selalu tahu bahwa dia yang mulai ambil bagian (great friend, isn’t she?…klo orang ngeliat saya dengan cerewet dan bawelnya saya..tidak demikian dengan sahabat saya ini..dia tahu sisi diam saya dimana dan kapan)

Dia : Ke PHC tadi bagian dari ikhtiar Is,

Tak diragukan lagi, ini pasti ada korelasinya dengan curhatan si Ana tadi, karena si Ana juga menyinggung tentang PHC di topik siang pembicaraan kami di kediamannya yang berlokasi di belakang sepupunya itu (kira-kira dipisahkan oleh 2 rumah dan satu lapangan bola volley). Spontan saya pun langsung mengeluarkan pernyataan saya

Saya : sahabatku (dengan menyebut namanya) klo orang berpikir saya ini gak punya masalah salah besar lah orang itu, dibalik keceriaanku ini aku juga punya banyak masalah tapi buat apa saya gembar-gemborkan ke orang lain, cukuplah Allah yang tau, toh aku ceritakan pun mereka gak akan menyelesaikan masalah dan kita harus sadari itu karena setiap orang pun pasti punya masalah sendiri-sendiri, hanya do’a dan bersyukur masih diberikan nikmat yang banyak di tengah permasalahan yang susah diurai dengan logika ini, semua pun sudah ada porsinya, bagaimana kita menjalankan aja

Dia : iya tadi aku pergi menemuai dokter kandungan bareng suamiku untuk konsultasi dan pemeriksaan supaya bisa punya anak

Usia pernikahan sahabat saya ini 3 tahun (awal tahun 2007 menikah), namun sampai dengan sekarang belum juga dikaruniai keturunan. Sebagai konsekuensi sosial,  pertanyaan dan sindiran masyarakat dan keluarga adalah suatu hal yang tak dinafikkan lagi walaupun untuk beberapa pasangan ini merupakan pertanyaan privasi yang tak usah sering ditanyakan…”tunggu sajalah, nanti klo udah ada juga bakal tau sendiri”.

Mengenai hal ini, si Ana mengatakan kepada saya “iya Is, karena sering ditanyain gitu, sampai2 dia kurang aktif berkumpul dengan orang2 kampung, kasian juga ngeliatnya, padahal dia sudah berobat kemana-mana dari dokter sampai dengan alternantif  sudah dia jalani, tapi belum berhasil juga”. Lantas saya pun merespon “ya, kenikmatan yang dikasi Allah kan beda-beda, ada yang dikasi banyak anak tapi hartanya gak terlalu banyak, atau ada yang dikasi banyak harta tapi masih belum dikaruniai anak, tergantung menyikapi aja, klo mo disamaratakan semua ya gak akan ada habisnya”.  Ana pun melanjutkan “sama kayak aku, sekarang sudah mau punya 2 anak, tapi pusing hutang dimana-mana, mana harus biayai adik ipar lagi yang mo pendidikan, belum ini belum itu”. Saya balik berkata “ya bersykur ajalah, klo ntar adik iparmu sukses kamu juga kan seneng, klo dia udah sukses dan ingat sama kamu pasti kamu kan dapet balasannya, klo pun gak diingat juga gpp toh kamu sudah bisa bantu diantara sodara-sodara suamimu, klo ngitung2 terus ya gak akan ada habisnya, bantuin aja sebisanya, rezeki ada yang ngatur”. Teman saya melanjutkan lagi “iya kamu enak, masih sendiri, gak mikirin ini itu, uang tinggal minta sama orang tua dan kakak-kakak”. Langsung saya bilang “ya gak lah, gak seperti yang diliat  dan dipikirkan orang, coba aja tanyain Ummi emang sejak aku pindah dari Jakarta ke Madura pernah minta uang, ato sama kakakku…malu lah, gak segampang itu minta uang”. Kata si Ana lagi “halah boong, tapi klo dikasi gak nolak kan??”, saya pun merespon “ya iyalah, dikasi gak nolak, km jg gitu kan sama abangmu?”. Kata teman saya lagi “tiap bulan aja sering pinjem uang ke emak buat nambah beli susu anakku, di rumah aku yang sediain keperluan dapur seperti minyak goreng dan kawan-kawan”. Saya : “ya udah bersyukur aja lah klo gitu”.

Saya : terus kata dokter gimana? dikasi obat kan?

Dia : ya biasalah konsultasi beberapa menit, dikasi obat abis itu pulang, terus suamiku nganterin aku ke Madura (rumah, red) terus balik lagi ke Surabaya ada keperluan

Saya : cepet amet

Dia : Klo dipikir-pikir ya banyak hikmahnya juga Is dengan kayak gini, karena kesempatan aku untuk memperbaiki baktiku sama orang tua semakin banyak dan begitu pula dengan perhatianku terhadap suami..paling gak aku bisa duduk disamping suamiku ketika bangun tidur itu udah cukup membahagiakan (nyengir saya pas dia bilang gini, tapi ekspresi sahabat saya masih tetap serius dan penuh konsentrasi), andai saya punya anak mungkin waktu saya banyak terpakai untuk anak saya, tapi dengan gini kan saya jadi lebih deket sama abi-ummi dan belajar untuk jadi penengah yang baik antara orang tua dan suami ku (ckckckck..menarik memang yang ini, butuh seni komunikasi yang baik untuk mempertemukan berbagai kepentingan walaupun hanya dalam keluarga yang notabene orangnya tidak terlalu kompleks, tapi justru di situlah awal skill komunikasi itu muncul, jika dari keluarga sudah banyak belajar maka pada saat keluar sudah terlatih, sepengetahuan saya inilah yang sahabat saya ini belum banyak miliki, perubahan terkait dengan ini saya lihat sejak teman saya berhubungan dengan orang yang kini menjadi suaminya)

Saya : ya gitulah, ada orang yang dikasi nikmat anak, ada juga yang dikasi nikmat harta, emang gak ada rencana buat adopsi anak dulu sambil nungguin

Dia : sebenernya kepikiran pengen biayain anak yang gak mampu

Saya : ya udah biayain aja murid-murid lesku di rumah, ada juga tuh yang gak mampu, lumayan kan (saya hanya bercanda),

Dia : (tersenyum saja), ya sedang dipikirkan saja, yang penting sekarang nikmati aja dan lanjutkan yang sudah ada sambil terus perbaiki diri

Saya : gitu dunk, temenan aja sama ponakan dan sepupumu itu juga udah menghibur kok, aku aja temenannya slain sama ponakanku juga sama sepupu2 dan anak2 tetanggaku, seru klo udah barengan mereka

Dia : iya

Sepertinya curhatan sahabat saya ini banyak terinspirasi dari buku yang ia pinjam beberapa hari yang lalu dari rumah saya, karena tumben-tumbenan dia menelpon saya dan mengatakan mau ke rumah untuk menanyakan ada buku apa saja di rumah, saya pun mengatakan “ke rumah aja dulu, ntar liat aja sendiri mo baca buku yang mana”. Diantara buku-buku yang diambil saya merekomendasikan satu buku yang juga banyak memberikan  inspirasi  bagi saya (Seven Awareness..it’s wonderfull book, selamat melanjutkan bacaannya sob, klo sudah selesai kamu pasti ngerasain sendiri magnet dari buku itu..loh kok promosi…gak kok hanya memberikan motivasi saja baik buat diri sendir maupun sahabat saya).

**

Nikmat apapun yang sedang singgah ke dalam kehidupan kita, itulah pasang surut hidup sebagai bentuk perngatan dariNya untuk kita bahwa kita tidak sendiri, masih ada yang akan selalu mendampingi kita dengan limpahan kasih sayangNya, maka tetap lanjutkan kreativitas diri, jangan menjadi manusia yang malas, senantias berikhtiar walaupun hasil itu belum nampak sekarang..semua itu butuh proses dan kesabaaran, terus perbaiki diri mungkin banyak hal yang menjadi penghalang bagi jalan kesuksesan kita…kualitas hablum minallah kita mungkin yang walaupun terlihat baik namun secara ilmu masih banyak yang harus diupdate dan diperbaiki lagi sehingga bergurulah dengan orang yang mumpuni di bidangnya, hubungan kita dengan sesama manusia dan lingkungan mungkin yang banyak prasangka dan semacamnya atau kurang begitu terlalu peduli sehingga sekaranglah waktunya untuk memberikan apa yang kita punya dan apa yang kita mampu dan tidak usah memaksakan diri untuk sebuah eksistensi…sewajarnya saja.

Semoga tulisan ini memberikan manfaat dan pengingat juga buat saya sendiri, mohon maaf jika ada tulisan dan pernyataan yang kurang berkenan.

Membaca Surat Cintanya

Posted January 31, 2010 by IUR
Categories: I-Activity, I-Heart to Heart

Hai Semuanya,

Kemarin (Minggu, 31 Januari 2010) sehabis bersepeda pagi hampir siang dengan mengajak sahabat kecil saya kemudian dilanjutkan membantu tetangga memompa balon dikarenakan sorenya anaknya akan mengadakan pesta perayaan ulang tahun.  Rasa kenyang masih menyelimuti raga saya dikarenakan sambil bersepeda tadi saya menyempatkan diri dulu ke pasar membeli sate yang dulunya sate langganan kami semasa bersekolah di SDN Burneh 1, sangat bersyukur sekali membawa temen-temen kecil ini karena saya yang masuk ke pasar sementara mereka yang menjaga sepeda saya supaya tidak dicuri orang, sebagai informasi bahwa pasar yang kami kunjungi itu jika hari Minggu sangat ramai sekali disebabkan adanya pasar Mingguan  (dalam bahasa Madura, -AHADHAN-) sehingga bukan hal yang mustahil jika sepeda saya itu saya target. Setelah membeli sate, ternyata saya harus mencari lon=ketupat dulu ke dalamnya lagi dikarenaka persediaan lontong dari sang penjual sate tersebut sudah habis. harga satu 10 tusuk sate ayam + bumbu yang aduhai itu 3500 saja, sedangkan harga ketupatnya 1000 rupiah. Ternyata persediaan uang di kantong masih ada maka saya lanjutkan membeli cendol yang konon kata sahabat saya enak, karena saya masih pendatang baru makanya saya tanyakan si penjual cendol ke penjual sate “dimanakah sang penjual cendol?”, sang Ibu menunjukkan dan saya pun ke sana membungkus 4 buah (loh kok banyak banget? jelas, tuh bocah2 cilik bisa2 teriak2 klo gak dibeliin, masak iya makan sndiri). Kenyang kan? pastilah, makanya siap bertempur (lebai deh).

Kok malah ceritanya ke pasar sama bersepeda ya, maaf temans…namanya juga intermeso. Sesampainya di rumah melihat di dapur ada cucian piring saya pun menyucinya dan kemudian memasak air sambil melihat pemandangan di dalam kulkasyang di dalamnya terdapat 3 buah alpukat hasil pemberian sahabat saya beberapa hari yang lalu sebagai imbalan karena saya telah mengantarkan ke Surabaya (gak penting ya teman saya, orang saya mo bayar eh malah dia yang bayarin…thx sob, sering2 ya). Saya pun mengambil satu alpukat dari kulkas kemudian mengupasnya dan mengeroknya dan memasukkannya ke dalam kulkas kemudian saya aduk-aduk menggunakan sendok terus ditambahkan gula sedikit, lantas bubuhkan es balok di atasnya. Srrrrruuuuuppppp, aromanya pun menggoda,  dalam keadaan masih mengenakan baju yang penuh keringat sehabis bersepeda dan memompa balon-balon tadi saya hendak menuju depan kamar sambil menikmati semilir angin siang menikmati segelas alpukat tiba-tiba ada yang membunyikan pagar depan, rupanya Ustadz Hafid, berarti hasrat untuk minum es alpukat ditunda sampai saya selesai belajar baca Al Qur’an.

Selagi belajar membaca Al-Quran di ruang tamu sebelah, tiba-tiba kakak, suami dan sohib kecil saya datang. Mereka langsung menuju kamar saya yang baru itu yang merupakan bekas kamar kakak dan abang saya dulu. Selesai membaca Al-Quran tadinya saya mau ke kamar itu, namun karena di dalamnya masih ada suami kakak saya sehingga saya pun mengurungkan niat untuk bermain Internet di kamar, dan saya menuju dapur menikmati es alpukat saya…akhirnya tersampaikan juga. Terbesit di dalam pikiran sepertinya saya kurang enak dengan kamar saya yang sekarang karena walaupun besar dan sinar mataharinya dimana-mana namun privasinya kurang terjaga, sehingga saya pun langsung mengatakan ke Ummi saya ” Ummi, aku mo pindah kamar aja balik ke kamarku yang dulu, males klo mbak Fifik dan suaminya datang, gak enak masuknya, kurang bisa ngapa-ngapain”. Kata Ummi “ya terserah, tapi jangan sekarang diangkutnya barang2nya gak enak ada suami kakakmu nanti tersinggung lagi”. Saya pun menjawab “ya iya lah, kayak gak tau aku aja, gak segitunya kali”. Dari situlah, saya pun mempersiapkan diri untuk relokasi kamar saya ke tempat yang dulu dengan memikirkan lokasi dan posisi barang-barang pribadi saya sehingga saya harus memastikan dulu semuanya dalam keadaan bersih dan tak berdebu. Langkah awal pun saya ambil dengan mebersihkan kamar belakang dulu karena meja belajarnya akan saya pergunakan untuk meja belajar saya, saya membersihkan laci-lacinya dan menyingkirkan barang-barangnya untuk sementara di dalam kardus. Pada saat saya membersihkan laci-laci itu banyak saya temukan hal-hal bermanfaat yang menceritakan tentang perjalanan hidup anggota keluarga saya di situ. Hal ini nantinya akan saya ceritakan sedikit demi sedikit.

Nah pada saat laci yang berbentuk seperti lemari di bagian sebalah kiri…aha!!!! tiba-tiba saya temukan beberapa pucuk surat yang ditujukan untuk abang saya, beberapa diantaranya ada yang berasal dari lembaga, kenalannya dari luar negeri (dalam hal ini Austira)…klo yang ini udah biasa saya baca secara tidak sengaja, tapi surat yang ini KOK BEDA ya…saya pun berpikir “kok tumben surat gak ada nama pengirimnya, apa seh isinya”, penasaran pun berlanjut dengan membukanya dan alhasil kata-kata puitis, curhat dan nyastra pun tertulis di dalam kertas merah jambu itu. Dengan bahasa yang membuat saya hoek hoek hoek, sambil berpikir “ternyata oh ternyata, bener klo gitu dulu, huuuu dasar si abang pake malu-malu padahal sama Bapak dulu mau dilamar tuh cewek klo emang beneran”. Membaca surat itu, saya pun senyum-senyum sendirian tidak jelas karena di dalam surat itu tersebut juga nama kakak saya, sepupu saya dan tetangga saya (kok bisa?, ya karena si cewek ini teman sekamar mereka di pesantren dulu). So, harus saya apain surat ini ya? tidak mungkin saya kasi lagi ke abang saya, ya udahlah saya simpan atau saya apakan tergantung mood saya saat beres-beres rumah.

Surat cinta jaman itu masih menggunakan jasa pos, beda dengan sekarang yang sudah menggunakan fasilitas online dengan cara update status di Facebook mungkin, kirim email, sms, telepon atau media online yang lain. Dahulu oh dahulu…mau menyatakan menerima cinta saja kok susah amat dan tidak praktis. Oh my house selalu saja ada cerita dan hikmah.

Jangan Sajadah yang Ini

Posted January 28, 2010 by IUR
Categories: I-Heart to Heart, I-Spiritual, I-UR

Bismillahirahmannirahim,

Selesai shalat maghrib berjemaah di masjid dekat rumah saya beranjak keluar dari masjid dengan mendahului beberapa jamaah wanita yang lain yang saat itu masih asyik dengan dzikirannya, tiba-tiba salah satu makmum yang duduk dalam jajaran itu menyapa saya “Is, sajadah itu yang dikasi ke deasy (ini bukan nama aslinya)”. Dalam keadaan berdiri itu menuju pintu keluar masjid, saya pun langsung merespon dengan singkat dan senyuman khas saya “Wah, jangan yang inilah, ntar aja yang lain”. Kemudian saya keluar dari masjid menuju ke rumah dalam keadaan tetap mengenakan mukena.

Sajadah Favoritku, Boleh Dipinjam Asalkan Jangan Diambil!

Kenapa saya begitu mencintai sajadah ini? karena sajadah ini pemberian abang saya ketika beliau menunaikan ibadah haji beberapa waktu yang lalu bersamaan dengan kakak saya (Didin, red). Ya sangat disayangkan sekali jika pemberian yang prestisius ini saya berikan ke orang lain lagi. Memang, mungkin harganya tidak seberapa, namun sajadah inilah yang pernah menemani perjalanan saya di Jakarta. Bagaimana mungkin saya melupakan jasa-jasanya. Di atas sajadah ini pula, saya banyak curhat kepada sang khalik. Bisa pula dikatakan bahwa sajadah ini menjadi saksi atas curhatan-curhatan saya. Memang ia tidak bisa berbicara, tapi keempukan dan variasi warnanya memberikan semangat yang signifikan bagi ibadah saya. Semoga orang yang telah memberikan sajadah ini kepada saya diberikan rezeki yang halal, banyak dan barokah serta limpahan rahmat dan hidayah dari Allah SWT.

Pagi yang Indah

Posted January 27, 2010 by IUR
Categories: I-Activity

Pagi..Numpang Lewat ya Wahai Sawah2

Subhnallah,

“Semua berdzikir kepada Allah, apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi”

Mari kita sambut pagi yang indah ini dengan mensyukuri nikmatnya seraya mengucapkan “Alhamdulillah, atas nikmat dan kesehatan yang telah Engkau berikan pagi ini”, “Subhanallah, atas keindahan pagi yang Engkau berikan pagi ini, suara kicauan burung yang merdu, matahari yang menembus kamar dan halaman depan rumah, embun yang masih terasa”, “Allahu Akbar, masih Engkau limpahkan rahmat dan hidayah Engkau untuk menunaikan kewajiban hamba dalam beribadah kepadaMu. “Laa Ilaa Haa Illallah, semoga pagi ini menjadi pintu pembuka rezeki dan ridhoMu untuk semua hal yang kami panjatkan, semoga ini menjadi semangat bagi kami untuk lebih memperbaiki diri lagi dan mendekatkan diri kami pada Engkau yaa Rabb.

Ya, pagi di rumah begitu amat Indah. Betapa tidak, di pagi hari aktivitas sudah dimulai, berikut ini aktivitas rutin di pagi hari :

1. Sholat Shubuh, jika memungkinkan maka beranjak ke Masjid Besar Al-Falah untuk menunaikan ibadah sholat shubuh berjemaah. Subhanallah, jumlah jamaah wanitanya lebih dominan dibandingkan dengan jumlah prianya, dan itu pun para Ibu dan Nenek…Hai Pemudi, hai Pemuda! dimanakah kamu?

2. Tilawah sebentar, semoga ini mendatangkan syafaat dan bukan laknat…Maafkan kesalahanku atas keslahan dalam membacanya baik sengaja maupun tidak disengaja. Astaghfirullah Astaghfirullah Astaghfirullah

Yaa Allah, rahmatilah aku dengan Al-Quran

Dan JadikanlahAl-Quran itu untukku sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmat

Yaa Allah, ingatkanlah aku ketika lupa darinya,

Dan berikanlah pengetahuan atas kebodohanku,

Dan berikanlah rezeki kepadaku dengan membacanya sepanjang malam dan siang,

Dan jadikanlah Al-Quran itu sebagai hujjah(penjelas) bagiku wahai Tuhan pemelihara alam

3. Bersepeda pagi ke sawah atau sungai. Namun jika bersama Ibu, maka cukup berjalan kaki saja dengan melewati sungai dan sawah yang kesegara udaranya belum terkontaminasi. Bisa juga menikmati matahari terbit di tengah kehijauan padi dan jagung yang sedang ditanam oleh para petani

4. Sambil bersepeda, kadang mampir dulu ke pasar untuk jajan atau membeli sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya. Tapi yang paling sering dibeli adalah bubur, yang adanya diatas jam setengah 7. Bubur di pasar itu adalah bubur favorit saya, selain harganya terjangkau…buburnya pun manis dan beraneka.

Ini dia bubur favoritku

Bubur siap dimakan dari daunnya

5. Beres-beres rumah, mulai dari membersihkan tempat tidur, mengelap, mencuci piring, menyapu, mengepel tergantung situasi dan kondisi (ini klo lagi gak capek), mencuci pakaian (tergantung jumlahnya, semakin banyak semakin bagus biar sekalian kerja)

6. Selesai, mandi dan sarapan pagi (atau sarapan pagi dulu baru mandinya belakangan).